Kamis, 02 Juli 2009

metolit ttg: Disain penelitian

DESAIN PENELITIAN

I. Pendahuluan
Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematik dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Untuk dapat menghasilkan suatu penelitian yang baik, maka si peneliti bukan saja harus mengetahui aturan permainan, tetapi juga harus mempunyao ketrampilan-ketrampilan dalam melaksanakan penelitian. Untuk menerapkan metode ilmiah dalam paraktek penelitian maka diperlukan suatu desain penelitian, yang sesuai dengan kondisi, seimbang dengan dalam dangkalnya penelitian yang akan dikerjakan.
Untuk menyusun suatu desain penelitian yang baik perlulah berbagai persoalan dipertimbangkan. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini adalah pertanyaan pokok yang perlu dijawab dalam setiap usaha untuk menyusun suatu desain penelitian:
a. Cara pendekatan apa yang akan dipakai?
b. Metode apa yang akan dipakai?
c. Strategi apa yang kiranya paling efektif?
Keputusan mengenai desain penelitian apa yang akan dipakai akan tergantung kepada tujuan penelitian, sifat masalah yang akan digarap, dan berbagai alternative yang mungkin digunakan.



II. Pengertian Desain Penelitian
Desain penelitian menurut Lerbin R Aritonang R.(2007:82) :
a. Dalam arti sempit : berisikan rincian dari semua prosedur perolehan dan penganalisisan data empiris
b. Dalam arti luas : desain penelitian menacakup semua rencana pelaksanaan suatu penelitian, mulai dari adanya permasalahan sampai dengan kegiatan yang paling terakhir pada suatu penelitian.

Setelah hipotesis penelitian dirumuskan, semua kegiatan berikutnya pada suatu penelitian dimaksudkan untuk menguji kebenaran empiris dari hipotesis itu atau menjawab secara empiris permasalahan penelitian. Jadi, desain penelitian berisi perincian dari semua prosedur perolehan dan penganalisaan data empiris. Secara garis besar desain penelitian mencakup penentuan subjek (populasi, sampel), pengembangan instrumen untuk memperoleh data empiris, perolehan data, persiapan analitis, dan analisis data.

Menurut A.Suchman dalam bukunya yang berjudul The principle of Research Design and Administration (1967), Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja.

Dalam bukunya yang berjudul Research Designs and Strategies (1972), V.Shah mendefinisi desain penelitian mencakup proses-proses berikut:
a. Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian.
b. Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian serta hubungan-hubungan dengan penelitian sebelumnya.
c. Memformulasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari tujuan, luas jangkauan dan hipotesa untuk diuji.
d. Membangun penyelidikan atau percobaan.
e. Memilih serta memberikan definisi terhadap pengukuran variabel-variabel.
f. Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan.
g. Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan data.
h. Membuat coding, serta mengadakan editing dan processing data.
i. Menganalisa data seta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisasi serta inferensi statistic
j. Pelaporan hasil penelitian, termasuk proses penelitian, diskusi serta interpretasi data, generalisasi, kekurangan-kekurangan dalam penemuan serta menganjurkan beberapa saran-saran dan penelitian yang akan dating.

Dari proses di atas, jelas terlihat bahwa proses tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. perencanaan penelitian
Menurut Moh. Nazir (1988:101) yang dimaksud dengan perencanaan penelitian adalah bahwa dalam merencanakan penelitian, desain dimulai dengan mengadakan penyelidikan dan evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui, dalam memecahkan masalah. Dari penyelidikan itu, akan terjawab bagaimana hipotesa dirumuskan dan diuji dengan data yang diperoleh untuk memecahkan suatu masalah. Dari sini pula dapat dicari beberapa petunjuk tentang desain yang akan dibuat untuk penelitian yang akan dikembangkan. Pemilihan desain biasanya dimulai ketika seseorang peneliti sudah mulai merumuskan hipotesa-hipotesanya. Tetapi aspek yang paling penting adalah berkenaan dengan apakah suatu hipotesa yang khas diterjemahkan ke dalam fenomena-fenomena yang diamati dan apakah metode penelitian yang akan dipilih akan dapat menjamin diperolehnya data yang diperlukan untuk menguji hipotesa tersebut. Sampai pada taraf ini, si peneliti dihadapkan kepada pilihan metode yang akan dipakai dalam penelitian. Apakah akan digunakan metode survei, metode eksperimen ataukah metode kualitatif yang tidak berstruktur. Juga telah dapat dipertimbangkan apakah dengan biaya yang tersedia serta jumlah serta keterampilan dari orang-orang yang akan dilibatkan dalam penelitian sudah cukup tersedia untuk melaksanakan penelitian. Desain untuk perencanaan penelitian bertujuan untuk melaksanakan penelitian. Desain untuk perencanaan penelitian bertujuan untuk melaksanakan penelitian, sehingga dapat membuat kesimpulan. Desain rencana penelitian yang baik akan dapat menterjemahkan model-model ilmiah ke dalam operasional penelitian secara praktis. Tiap langkah dari desain perencanaan penelitian memerlukan pengambilan keputusan yang tepat oleh si peneliti. Keputusan yang diambil harus merupakan kompromi antara penggunaan metode ilmiah yang sangat sukar dan kondisi sumber yang tersedia. Kompromi-kompromi ini dapat menghasilkan rencana penelitian yang cocok dengan masyarakat ilmiah setempat serta taraf pengembangan ilmu itu sendiri.



2. pelaksanaan penelitian atau proses operasional penelitian.
Menurut Moh. Nazir (1988:101) yang dimaksud dengan pelaksanaan penelitian atau proses operasional penelitian adalah desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variabel, memilih prosedur dan teknik sampling, alat-alat untuk mengumpulkan data kemudian membuat coding, editing dan memproses data yang dikumpulkan. Dalam pelaksanaan penelitian termasuk juga proses analisa data serta membuat pelaporan. Oleh Suchman (1967) desain dalam pelaksanaan penelitian dibagi atas:
1. Desain sampel,
Desain sampel yang akan digunakan dalam operasional penelitian amat bergantung dari pandangan efisiensi. Dalam desain sampling ini termasuk:
a. Mendefinisikan populasi,
b. Menentukan besarnya sampel dan,
c. Menentukan sampel yang representatif.
Definisi dari sampling sangat bergantung dari hipotesa. Dalam menentukan besar sampel, pemilihannya perlu dihubungkan dengan tujuan penelitian serta banyaknya variabel yang ingin dikumpulkan.
Dalam merencanakan desain dari sampling diperlukan teknik-teknik untuk memperoleh sampling yang representatif. Memang terdapat perbedaan pendapat apakah sampling yang diambil harus probability sampling, atau judgemental sampling, tetapi perbedaan di atas baru perlu dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan kesimpulan yang akan diambil serta inferensi statistik yang akan dibuat. Kombinasi dari kedua teknik sampling di atas dapat juga dilaksanakan.
Jika metode penelitian yang dipilih adalah metode eksperimental, maka dalam masalah desain sampling, penekanan lebih diarahkan kepada pemilihan desain percobaan yang cocok. Dalam pemilihan desain percobaan ini si peneliti selalu dituntun oleh derajat akurasi yang ingin dicapai, validitas yang ingin diperoleh serta error yang ingin diminimisasikan. Konsisi homogenitas dari media percobaan juga menentukan desain percobaan mana yang lebih baik dan lebi efisien untuk digunakan.

2. Desain alat (instrumen),
Yang dimaksud dengan alat disini adalah alat untuk mengumpulkan data. Masalah desain terhadap alat untuk mengumpulkan data sangat menentukan sekali dalam pengujian hipotesa. Alat yang digunakan dapat saja sangat berstruktur (seperti check list dari questioner atau schedule), kurang berstruktur seperti interview guide ataupun suatu outline biasa di dalam mencatat pengamatan langsung. Pemilihan alat harus dievaluasikan sebaik mungkin sehingga alat tersebut cocok dengan informasi yang diinginkan untuk memperoleh data yang cukup reliabel. Kecuali dalam penelitian percobaan, maka alat yang digunakan dalam penelitian sosial sukar menjamin terdapatnya validitas mutlak dari observasi data. Satu alat bisa saja untuk satu kegunaan, tetapi menjadi tidak valid untuk tujuan yang lain. Secara umum desain dari alat haruslah dievaluasikan sebelum digunakan untuk dapat menjamin efisiensi dalam mengumpulkan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam menguji hipotesa.

3. Desain administrasi, dan
4. Desain analisa.
Secara ideal desain analisa sudah dikerjakan lebih dahulu sebelum pengumpulan data dimulai. Jika desain dalam memformulasikan hipotesa sudah cukup baik, maka desain analisa secara paralel dapat dikembangkan dari desain merumuskan hipotesa tersebut. Hipotesa tersebut dianggap baik jika ia konsisten dengan analisa yang akan dibuat.
Dalam desain hipotesis, juga harus sudah dispesifikasikan hubungan-hubungan dasar yang akan dianalisa. Dalam analisa hubungan-hubungan antara variabel bebas dan variabel dependen, maka variabel lain yang mempengaruhi kedua variabel di atas perlu juga dianalisa.
Hipotesa merupakan titik tolak analisa, tetapi pemikiran imaginatif serta pkiran-pikiran asli akan muncul dalam analisa dan disesuaikan dengan data yang tersedia. Dalam analisa, si peneliti akan mencocokkan hipotesa dengan data, menambah yang kurang, mengurangi yang lebih. Walaupun demikian, lukisan akhir yang dihasilkan oleh analisa harus menyerupai gambaran yang dilukiskan oleh hipotesa.
Dalam desain analisa, maka diperlukan sekali alat-alat yang digunakan untuk membantu analisa. Penggunaan statistik yang tepat yang sesuai dengan keperluan analisa harus dipilih sebaik-baiknya. Penggunaan statistik sebagai alat analisa telah sangat berkembang, tetapi dalam analisa yang dilakukan, jangan dilupakan asumsi-asumsi dasar yang ditempelkan pada penggunaan statistik tersebut, serta ke arah mana inferensi tersebut akan dibuat.
Desain penelitian merupakan perpaduan antara keputusan dan revisi, dimana suatu keputusan yang diambil selalu diiringi dengan pengaruh adanya keseimbangan dalam proses. Sudah terang tiap keputusan harus disandarkan kepada metode ilmiah, tetapi menterjemahkan keputusan tersebut dalam suatu prosedur operasional yang khas memerlukan seni dan keterampilan.
Proses perencanaan penelitian dimulai dari identifikasi, pemilihan serta perumusan masalah sampai dengan perumusan hipotesis serta kaitannya dengan teori dan kepustakaan yang ada. Proses selebihnya merupakan tahap operasional dari penelitian.

III. Ciri-ciri Desain Penelitian
Menurut Moh.Nazir (1988:100), Desain penelitian mempunyai ciri-ciri dimana desain penelitian tidak pernah dilihat sebagai ilmiah atau tidak ilmiah, tetapi dilihat dari segi baik atau tidak baik saja. Karena desain juga mencakup rencana studi maka di dalamnya selalu ada trade off antara kontrol atau tanpa kontrol, antara objektivitas dengan subjektivitas. Desain tergantung dari derajat akurasi yang diinginkan, level pembuktian dari tingkat perkembangan dari bidang ilmu yang bersangkutan.
Desain yang tepat sekali tidak pernah ada. Hipotesis dirumuskan bisa dalam bentuk alternatif, karena itu desain juga, dapat berbentuk alternatif-alternatif. Desain yang dipilih biasanya merupakan kompromi, yang banyak ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan praktis.
Menurut (Suchman, 1967):Desain yang ideal sekurang-kurangnya harus mempunyai ciri-ciri berikut ini
• Dibentuk berdasarkan metode ilmiah.
• Dapat dilaksanakan dengan data dan teknik yang ada
• Cocok untuk tujuan penelitian, dalam artian harus menjamin validitas penemuan untuk memecahkan masalah
• Harus ada originalitas dalam membuat desain yang iventif sifatnya
• Ada keindahan dalam desain, dalam artian bahwa desain tersebut seimbang.
• Desain harus cocok dengan biaya penelitian, dan dengan kemampuan sumber manusia.

IV. Klasifikasi desain penelitian
Pada saat ini bermacam-macam desain penelitian telah dikembangkan, dan untuk mengikhtisarkan berbagai desain penelitian tersebut digolongkan berdasarkan dari sifat-sifat masalahnya.
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:16) berbagai macam desain penelitian dapat digolongkan menjadi sembilan macam kategori:
1. Desain Penelitian Historis
2. Desain Penelitian Deskriptif
3. Desain Penelitian Perkembangan
4. Desain Penelitian Kasus dan Lapangan
5. Desain Penelitian Korelasional
6. Desain Penelitian Kausal-Komparatif
7. Desain Penelitian Eksperimental-Sungguhan
8. Desain Penelitian Eksperimental-Semu
9. Desain Penelitian Tindakan
Desain Penelitian Historis
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:16-19), bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensistesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.
Contoh: Studi mengenai praktek “Bawon” di daerah pedesaan di jawa tengah, yang bermaksud memahami dasar-dasarnya diwaktu yang lampau serta relevansinya untuk waktu kini; studi ini di maksudkan juga untuk mentest hipotesis bahwa nilai-nilai sosial tertentu serta rasa solidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan.
Ciri-ciri desain penelitian histories:
• Desain penelitian histories lebih tergantung pada data yang diobservasi orang lain daripada yang diobservasi oleh peneliti sendiri
• Penelitian histories haruslah tertib-ketat, sistematis, dan tuntas; seringkali desain penelitian histories hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliable, dan berat sebelah.
• Tergantung dari 2 macam data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer, yaitu si peneliti secara langsung melakukan observasi atau penyaksian kejadian-kejadian yang dituliskan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber sekunder, yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain.
• Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menayakan “Apakah dokumen relik itu autentik”, sedang kritik internal menanyakan “Apabila data itu autentik, apakah data tersebut akurat dan relevan”. Kritik internal harus menguji motif, keberat-sebelahan, dan keterbatasan si penulis yang mungkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan informasi yang palsu

Desain Penelitian Deskriptif
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:19-21), penelitian ini betujuan untuk membuat pencandraan secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.
Perbedaan penelitian deskriptif dengan eksperimen terletak pada ada tidaknya variable independent yang di manipulasi. Variabel independent yang dimanipulasi itu disebut variable perlakuan karena ada perlakuan tertentu yang secara sengaja dibuat oleh peneliti terhadap variable independent itu sedemikian rupa sehingga variable dependennya akan berada dalam keadaan yang diinginkan oleh si peneliti. Misalnya, agar volume penjualan suatu produk meningkat di waktu yang akan datang, peneliti meningkatkan biaya promosinya. Dalam hal ini, variable independent yang dimanipulasi adalah biaya promosi dan varibel dependennya adalah volume penjualan.
Contoh lainnya:
• Penelitian mengenai hubungan antara besarnya biaya iklan dan volume penjualan selama 25 kuartal yang lalu.
• Studi mengenai kebutuhan tenaga kerja akademik pada suatu kurun waktu tertentu.

Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:84-85), definisi desain deskriptif adalah permasalahan pada penelitian konklusif telah dapat didefinisikan dan diidentifikasi secara jelas karena peneliti telah memiliki pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan itu. Sebagian dari pengetahuan itu biasanya diperoleh dari hasil penelitian eksploratif. Berdasarkan pengetahuan itu pula, hipotesis pada penelitian konklusif dapat dirumuskan. Tujuan penelitian konklusif adalah untuk menguji kebenaran empiris dari suatu hipotesis yakni kebenaran mengenai empiris kaitan antardua atau lebih variabel penelitian yang dirumuskan pada hipotesisnya.
Perbedaan penelitian deskriptif dan eksperimen terletak pada ada tidaknya variabel independen yang dimanipulasi. Pada penelitian deskriptif tidak ada variabel yang dimanipulasi, sedangkan pada penelitian eksperimen ada variabel yang dimanipulasi. Variabel independen yang dimanipulasi itu disebut juga sebagai variabel perlakuan karena ada perlakuan (treatment) tertentu yang secara sengaja dibuat oleh peneliti terhadap variabel independen itu sedemikan rupa sehingga variabel dependennya akan berada dalam keadaan yang diinginkan oleh si peneliti. Misalnya, agar volume penjualan suatu produk meningkat di waktu yang akan datang peneliti meningkatkan biaya promosinya. Dalam hal ini, variabel independen yang dimanipulasi adalah biaya promosi dan variabel dependennya adalah volume penjualan. Perlakuannya adalah berupa peningkatan biaya promosi. Contoh dari desain deskriptif adalah penelitian mengenai hubungan antara besarnya biaya iklan (variabel independen) dan volume penjualan (variabel dependen) selama 25 kuartal yang lalu. Dalam hal ini, data mengenai variabel independen maupun dependennya selama 25 kuartal itu telah ada sebelum dan pada saat penelitian dilakukan. Jadi, datanya sudah ada dan tidak ada variabel yang dimanipulasi. Penelitian yang dekimian disebut juga sebagai penelitian ex post facto.
Dari uraian mengenai adanya variabel independen yang dimanipulasi pada penelitian eksperimen (kausal) di atas, kita dapat mengetahui bahwa datanya sengaja diciptakan. Dalam kaitan itu, variabel independen itu disebut juga sebagai variabel pengaruh dan variabel dependennya disebut variabel terpengaruh. Sebaliknya, pada penelitian deskriptif tidak ada variabel yang dimanipulasi, jadi data pada penelitian deskriptif bersifat given, sudah tertentu, sudah ada sebelum penelitian dilakukan, dan bukan data yang diciptakan melalui variabel perlakuan tertentu. Dengan demikian, istilah pengaruh atau sejenisnya tidaklah selayaknya digunakan pada perumusan permasalahan maupun hipotesis pada penelitian deskriptif.
Sebagaimana dikemukakan di atas, subjek, atau responden pada penelitian deskriptif lebih banyak daripada penelitian eksploratif. Konsekuensi dari hal itu adalah bahwa instrumen yang digunakan untuk memperoleh data empiris pada penelitian deskriptif (maupun kausal) adalah instrumen yang dapat diadministrasikan pada sejumlah besar subjek secara sekaligus, seperti angket. Data yang dikumpulkan pada penelitian konklusif umumnya adalah data kuantitatif dan teknik analisis data yang digunakan juga adalah teknik analisis untuk data kuantitatif.
Penelitian deskriptif dibedakan menjadi penelitian cross-sectional dan longitudinal. Variable pada penelitian cross-sectional diukur satu kali pada waktu yang (relatif) bersamaan, misalnya penelitian yang dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat harga dan tingkat penjualan dari suatu produk. Untuk itu, data mengenai tingkat harga dan penjualan itu, misalnya, diperoleh dari beberapa pengecer. Dari tiap pengecer diminta data mengenai tingkat harga yang diberlakukan dan tingkat penjualan yang dicapainya. Perolehan data itu dilakukan selama satu minggu atau satu bulan, misalnya. Adakalanya penelitian cross-sectional itu disebut juga sebagai survei sampel bila hanya sebagian dari subjek populasinya yang diteliti.
Variabel pada penelitian longitudinal diukur beberapa kali pada waktu yang berbeda-beda dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Untuk contoh mengenai penelitian cross-sectional di atas misalnya, data yang diperoleh adalah data untuk tiap tahun selama sepuluh tahun terakhir dari satu pengecer. Jadi, pengukuran dilakukan sebanyak sepuluh kali. Tujuan penelitian longitudinal itu biasanya adalah untuk mengetahui perkembangan dari suatu variabel yang melekat pada subjeknya. Contoh lainnya adalah penelitian mengenai sejumlah konsumen untuk mengetahui pola perkembangan perilakunya dalam berbelanja selama kurun waktu sepuluh tahun.
Penelitian longitudinal dibedakan lagi menjadi true panel atau disebut juga sebagai time series dan omnibus panel. Bila variable yang diteliti adalah variable yang sama dan hanya satu variable, maka penelitiannya disebut true panel. Bila lebih dari satu variabel yang diteliti dan diukur pada waktu yang berbeda adalah variabel yang berbeda, maka penelitiannya disebut omnibus panel.
Tipe lain dari penelitian deskriptif adalah cohort. Penelitian ini dilakukan terhadap sekelompok subjek yang memiliki usia (yang relatif) sama, sebaya, yang mengalami peristiwa tertentu
Menurut Shah (1972), yang dimaksud dengan desain penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang noneksperimental dapat dibagi atas penelitian deskriptif dan penelitian analitis. Penelitian deskriptif adalah studi untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam desain studi deskriptif ini, termasuk desain untuk studi formulatif dan eksploratif yang berkehendak hanya untuk mengenal fenomena-fenomena untuk keperluan studi selanjutnya. Dalam studi deskriptif juga termasuk:
1. studi untuk melukiskan secara akurat sifat-sifat dari beberapa fenomena, kelompok atau individu;
2. studi untuk menentukan frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk meminimisasikan bias dan memaksimumkan reliabilitas.
Di samping penelitian deskriptif, terdapat juga desain untuk penelitian analitis. Walaupun sangat kecil perbedaan antara studi deskriptif dan analitis, tetapi pada studi analitis, analisa ditujukan untuk menguji hipotesa-hipotesa dan mengadakan interpretasi yang lebih tenang dalam hubungan-hubungan. Berbeda dengan penelitian eksperimen, pada desain penelitian analitis ini, analisa dikerjakan berdasarkan data ex post facto. Desain studi analisa lebih banyak dibatasi oleh keperluan-keperluan pengukuran-pengukuran, dan menghendaki suatu desain yang menggunakan model seperti pada desain percobaan.
Sesuai dengan metode penelitian, maka desain deskriptif dan analisa dapat dibagi pula atas tiga, yaitu: desain studi historis, desain studi kasus, dan desain survei. Seperti sudah dijelaskan, metode penelitian sejarah mencakup empat aspek, yaitu: mencari material historis, menguji secara kritis asal dan keaslian sumber sejarah serta validitas dari isi sumber tersebut memberikan interpretasi dan pengelompokkan dari fakta-fakta serta hubungannya, dan formulasi serta melukiskan hasil penemuan. (Gee, 1950)
Sedangkan pada desain studi kasus, unit sosial selalu dilihat sebagai suatu keseluruhan, apakah unit tersebut adalah perseorangan, keluarga ataupun kelompok sosial lainnya. Penelitian biasanya mencakup hubungan-hubungan atau proses seperti krisis dalam keluarga, pembentukan kesetiakawanan, masalah penyesuaian terhadap penyakit, dan sebagainya. Sedangkan desain untuk survei mengikuti pola percobaan dengan kontrol statistik ataupun dengan analisa korelasi atau regresi, dalam menentukan tingkat hubungan yang terjadi.

Desain Penelitian Perkembangan
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:21-23), desain ini merupakan perluasan dari desain deskriptif dan dapat dibedakan menjadi penelitian cross-sectional dan longitudinal.
Variabel pada penelitian cross-sectional diukur satu kali pada waktu yang bersamaan
Contoh, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat harga dan tingkat penjualan dari suatu produk. Untuk itu, data mengenai tingkat harga dan penjualan itu, misalnya, diperoleh dari beberapa pengecer. Dari tiap pengecer diminta data mengenai tingkat harga yang diberlakukan dan tingkat penjualan yang dicapainya, perolehan data dilakukan selama satu minggu atau satu bulan.
Variabel pada penelitian longitudinal diukur beberapa kali pada waktu yang berbeda-beda dan dalam rentang waktu yang relative lama.
Contoh, penelitian mengenai sejumlah konsumen untuk mengetahui pola perkembangan perilakunya dalam berbelanja selama kurun waktu sepuluh tahun.
Longitudinal dibedakan lagi menjadi True Panel ( Time Series) dan Omnibus Panel. Bila variable yang diteliti adalah variable yang sama dan hanya satu variable, maka penelitiannya disebut True Panel. Bila lebih dari satu variable yang diteliti dan diukur pada waktu yang berbeda adalah variable yang berbeda, maka penelitiannya disebut Omnibus Panel.

Desain Penelitian Kasus dan Lapangan
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:23-26), bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit social : individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.
Contoh:
• Studi secara mendalam mengenai seorang anak yang mengalami ketidak-mampuan belajar yang dilakukan oleh seorang ahli psikologi.
• Studi lapangan mengenai kebudayaan kelompok-kelompok masyarakat terpencil.
Ciri-ciri:
• Penelitian kasus adalah penelitian yang mendalam mengenai unit social tertentu yang hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisasi baik mengenai unit tersebut.
• Desain penelitian kasus cenderung digunakan untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variable-variabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya.

Keunggulan-keunggulan.
• Penelitian kasus sangat berguna untuk informasi latar belakang guna perencanaan penelitian yang lebih besar dalam ilmu-ilmu social. Karena studi yang demikian itu intensif sifatnya, studi tersebut menerangi variable-variabel yang penting, proses-proses, dan interaksi-interaksi, yang memerlukan perhatian yang lebih luas. Penelitian kasus itu merintis dasar baru dan seringkali merupakan sumber hipotesis untuk penelitian lebih jauh.
• Data yang diperoleh dari penelitian kasus memberikan contoh-contoh yang berguna untuk memberikan ilustrasi mengenai penemuan-penemuan yang digeneralisasikan dengan statistic.
Kelemahan-kelemahan:
• Karena fokusnya yang terbatas pada unit-unit yang sedikit jumlahnya, penelitian kasus itu terbatas sifat representatifnya. Studi yang demikian itu tidak memungkinkan generalisasi kepada populasi, sebelum penelitian lanjutan yang berfokus pada hipotesis-hipotesis tertentu dan menggunakan sample yang layak selesai dikerjakan.

Desain Penelitian Korelasional
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:26-28) untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu factor yang berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.
Contoh:
• Studi yang mempelajari saling hubungan antara skor pada test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi.
• Studi untuk meramalkan keberhasilan belajar berdasarkan atas skor pada test bakat.
Ciri-ciri:
• Penelitian ini cocok dilakukan bila variable yang diteliti rumit atau tidak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tidak dapat dimanipulasi.
• Memungkinkan pengukuran beberapa variable dan saling berhubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
• Apa yang diperoleh adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.

Kelemahan:
• Hasilnya Cuma mengidentifikasikan apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukan saling hubungan yang bersifat kausal.
• Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib-ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variable-variabel bebas.
• Pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur.
• Sering merangsang penggunaanya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.

Desain Penelitian Kausal-Komparatif
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:28-32) bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan sebab-akibat dengan cara : berdasarkan atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali factor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang di kontrol.

Desain Penelitian Eksperimental-Sungguhan
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:32-36) bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan desain dimana secara nyata ada kelompok perlakuan dan kelompok control dan membandingkan hasil perlakuan dengan kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.
Contoh:
• Penelitian untuk menyelidiki pengaruh dua metode mengajar sejarah pada murid-murid kelas III SMA sebagai fungsi ukuran kelas dan taraf intelegensi murid, dengan cara menempatkan guru secara random berdasarkan inteligensi, ukuran kelas, dan metode mengajar.
• Penelitian untuk menyelidiki efek program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap sikap murid-murid SMP, dengan menggunakan kelompok eksperimen, dan kelompok kontrol, dan dengan menggunakan rancangan pretest-posttest dimana hanya separuh dari murid-murid itu secara random menerima pretest untuk menentukan seberapa besarnya perubahan sikap itu dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau oleh program pendidikan.
• Penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan-makanan disekolah kepada murid-murid SD di suatu daerah dengan memperhatikan keadaan social-ekonomi orang tua dan taraf intelegensi.

Ciri-ciri:
• Menuntut pengaturan variable dan kondisi eksperimental secara tertib-ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi.
• Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai “garis-dasar” untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental
• Memusatkan usaha pada pengontrolan varians untuk memaksimalkan varians variable yang berkaitan dengan hipotesis penelitian; untuk meminimalkan varians variable pengganggu atau yang tidak diinginkan yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi yang tidak menjadi tujuan penelitian; untuk meminimalkan varians kekeliruan atau varians rambang, termasuk apa yang disebut kekeliruan pengukuran.
• Internal validity adalah sine qua non untuk rancangan ini dan merupakan tujuan pertama metode eksperimental
• Tujuan kedua adalah external validity, yang menayakan : seberapa representatifkah penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan kepada subyek-subyek atau kondisi-kondisi yang semacam?
• Dalam rancangan eksperimental yang klasik, semua variable penting diusahakan agar konstan kecuali variable perlakuan yang secara sengaja dimanipulasi atau dibiarkan bervariasi.
• Walaupun cara pendekatan eksperimental itu adalah yang paling kuat kara cara ini memungkinkan untuk mengontrol variable-variabel yang relevan, namun cara ini juga paling restriktif dan dibuat-buat. Cirri inilah yang merupakan kelemahan utama kalau metode ini dikenakan kepada manusia dalam dunianya, karena manusia sering berbuat lain apabila tingkah lakunya dibatasi secara artificial, dimanipulasikan, atau diobservasi secara sistematis atau dievaluasi.

Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:91), desain eksperimen yang sebenarnya terdiri atas desain kelompok kontrol dan pengukuran ulang, desain kelompok kontrol hanya pasca-pengukuran dan desain empat kelompok Solomon.

Desain Penelitian Eksperimental-Semu
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:36-38) bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan memanipulasi semua variable yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi-kompromi apa yang ada pada internal validity dan external validity rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Contoh :
• Penelitian untuk menilai keefektifan tiga cara mengajar konsep-konsep dasar dan prinsip ekonomi di SD apabila guru-guru tertentu dapat secara sukarela menjalankan pengajaran itu karena tertarik akan bahannya.
• Penelitian pendidikan yang menggunakan pretest-posttest, yang didalamnya variable-variabel seperti kematangan, efek testing, regresi statistic, atrisi selektif, dan adaptasi tidak dapat dihindari atau justu terlewat dari penelitian.
• Berbagai penelitian mengenai problem social seperti kenakalan, keserakahan, merokok, jumlah penderita penyakit jantung, dan sebagainya, yang didalmnya kontrol dan manipulasi tidak selalu dapat dilakukan.
Ciri-ciri:
• Penelitian eksperimental-semu secara khas mengenai keadaan praktis, yang didalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variable yang relevan kecuali beberapa dari variable-variabel tersebut. Si peneliti mengusahakan untuk sampai sedekat mungkin dengan ketertiban penelitian eksperimental yang sebenarnya, dengan hati-hati menunjukan perkecualian dan keterbatasannya.
• Perbedaan antara penelitian eksperimental-sungguhan dan penelitian eksperimental-semu adalah kecil, terutama kalau yang dipergunakan sebagai subyek adalah manusia, misalnya dalam psikologi.
• Walaupun penelitian tindakan dapat mempunyai status eksperimental-semu, namun seringkali penelitian tersebut sangat tidak formal, sehingga perlu diberi kategori tersendiri. Sekali rencana penelitian telah dengan sistematis menguji masalah validitas, bergerak menjauhi alam intuitif dan penjelajahan maka permulaan metode eksperimental telah mulai terwujud.

Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:92), desain eksperimen semu terdiri atas desain runtut waktu tunggal dan ganda. Desain ini digunakan pada dua kondisi:
• Peneliti tidak dapat melakukan pengendalian ketika pengukuran dilakukan dan terhadap siapa dilakukan, serta
• Pengendalian peneliti terhadap penjadualan perlakuan kurang dapat dilakukan dan peneliti tidak dapat menghadapkan subjek pada perlakuan secara acak.

Desain Penelitian Tindakan
Menurut Sumadi Suryabrata (1990:38-39) bertujuan untuk mengembangkan keterampilam-keterampilan baru atau cata pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia actual yang lain.
Contoh:
• Suatu program inservice training untuk melatih para konselor bekerja dengan anak putus sekolah;
• untuk menyusun program penjajagan dalam pencegahan kecelakaan pada pendidikan pengemudi;
• untuk memecahkan masalah apatisme dalam penggunaan teknologi modern atau metode menanam padi yang inovatif.

Ciri-ciri:
• Praktis dan langsung relevan untuk situasi actual dalam dunia kerja.
• Menyediakan rangka-kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru, yang lebih baik daripada pendekatan impresionistik dan fragmentaris. Cara penelitian ini juga empiris dalam artian bahwa penelitian tersebut mendasarkan diri kepada observasi actual dan data mengenai tingkah laku, dan tidak berdasar pada pendapat subyektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.
• Fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the-spot experimentation dan inovasi
• Walaupun berusaha supaya sistematis, namun penelitian tindakan kekurangan ketertiban ilmiah, karenanya validitas internal dan eksternalnya adalah lemah. Tujuan situasional, sampelnya terbatas dan tidak representative, dan kontrolnya terhadap variable bebas sangat kecil. Karena itu, hasil-hasilnya walaupun berguna untuk dimensi praktis, namun tidak secara lansung memberi sumbangan kepada ilmunya.
McGrath (1970) membagi desain penelitian atas lima, yaitu: percobaan dengan kontrol, studi, survei, investigasi, dan penelitian tindakan.
Sedangkan Barnes (1964) membagi desain penelitian atas:
1. studi ”sebelum-sesudah” dengan kelompok kontrol,
2. Studi ”Sesudah Saja” dengan kelompok kontrol,
3. Studi ”Sebelum-Sesudah” dengan satu kelompok,
4. Studi ”Sesudah Saja” tanpa kontrol dan,
5. Percobaan ex post facto
Sedangkan Selltiz, et. al., (1964) membagi desain penelitian atas tiga yaitu:
1. desain untuk studi eksploratif dan formulatif,
2. desain untuk studi deskriptif, dan
3. desain untuk menguji hipotesa kausal.


Desain untuk penelitian yang ada kontrol
Menurut Shah (1972) Desain penelitian ini adalah desain percobaan atau desain bukan percobaan. Kedua desain tersebut mempunyai kontrol. Dalam desain percobaan, beberapa variabel dikontrol, dan beberapa merupakan kontrol. Dalam percobaan, si peneliti mengadakan manipulasi terhadap beberapa variabel atau faktor yang merupakan fenomena yang menyebabkan munculnya hasil yang sedang diteliti. Desain percobaan biasanya dipakai untuk meneliti fenomena natura.
Di lain pihak, terdapat kesulitan untuk mengadakan percobaan jika objeknya adalah manusia. Dalam hal ini maka percobaan sejati tidak bisa dilakukan. Karena itu, si peneliti mengadakan percobaan semu dengan kontrol yang tidak berapa ketat. Kontrol ini dapat dilaksanakan dengan randomisasi, manipulasi melalui pemilihan kelompok yang mempunyai sifat atau karakter yang berbeda, dan dengan mengontrol secara statistik. Karena kelompok kontrol ditentukan secara alamiah tanpa manipulasi, maka sukar dipastikan apakah adanya hubungan secara statistik antara fenomena memang disebabkan oleh variabel yang sedang diteliti atau oleh variabel luar lainnya.

Desain untuk studi lapangan
Menurut Shah (1972). Desain percobaan dapat dilihat dari sudut apakah penelitian tersebut merupakan setting dengan menggunakan lapangan atau tidak. Desain penelitian sejarah, misalnya, kurang menggunakan penelitian lapangan, karena banyak kerja penelitian dilakukan untuk mencari dokumen-dokumen di musium, perpustakaan, dan sebagainya. Sebaliknya desain untuk penelitian percobaan lebih banyak dilakukan di lapangan. Keadaan serta tingkat kontrol yang dapat dilakukan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya kerja lapangan dalam penelitian.
Pada metode sejarah, kerja di lapangan hanya merupakan sebagian dari kerja penelitian seluruhnya. Walaupun teknik dalam metode kasus dan metode sejarah hampir bersamaan, tetapi secara relatif, desain studi kasus lebih banyak melakukan kerja lapangan dibandingkan dengan metode sejarah.
Metode survei menggunakan kombinasi dari teknik yang mencakup sampel yang cukup besar sampai teknik pengamatan yang kurang formal dengan sampek kecil dan kualitatif, ataupun studi yang cukup intensif mengenai suatu fenomena. Metode survei dilaksanakan di lapangan, karenanya desain untuk penelitian survei sangat bergantung dari pemilihan responden, pemilihan alat pengumpulan data, prosedur-prosedur yang dilaksanakan serta kondisi di lapangan.
Desain percobaan dengan mempertimbangkan ada tidaknya penelitian lapangan sangat erat hubungannya dengan ada tidaknya kontrol dalam mengumpulkan data. Peneliti dapat membuat kontrol yang ketat pada percobaan laboratorium. Kemampuan memakai kontrol sedikit berkurang jika desain percobaan dilakukan di lapangan. Kontrol semakin berkurang jika desain non eskperimental dilaksanakan di lapangan. Kontrol boleh dikatakan tidak ada sama sekali jika desain non experimental dilakukan bukan sepenuhnya di lapangan dalam mengumpulkan data seperti desain metode sejarah.

Desain untuk studi dengan dimensi waktu
Menurut Shah (1972). Dalam hubungannya dengan waktu serta pengulangan penelitian, maka kita lihat bahwa penelitian percobaan dan penelitian dengan menggunakan metode sejarah memakai desain dimana penyelidikan dilakukan dalam suatu interval waktu tertentu. Tetapi dalam desain survei, masalah waktu yang digunakan dalam mengumpulkan data perlu sekali diperhatikan. Jika data dikumpulkan dengan cara cross section, maka penelitian dinamakan one time cross sectional study. Tetapi jika data dikumpulkan untuk suatu periode tertentu, dan responden yang digunakan pada periode lain adalah kelompok yang tidak serupa dengan kelompok pada pengumpulan data pertama, maka desain tersebut dinamakan desain studi panel. Jika data dikumpulkan pada lebih dari dua titik waktu dengan menggunakan kelompok responden yang sama, maka desain studi dinamakan studi longitudinal.
Jika data dikumpulkan beberapa kali dengan interval yang reguler yang memakai suatu interval yang lama, maka penelitian tersebut dinamakan studi time series, atau studi trend. Dalam studi trend, desain yang digunakan adalah membuat perbandingan antara kelompok percobaan sebelum perbandingan antara kelompok percobaan sebelumnya, dengan kelompok kontrol sesudah itu. Masalah dalam desain ini timbul karena sukar mengamati perubahan-perubahan internal dan checking dibatasi dengan hanya mencocokkan kelompok internal dengan kelompok percobaan.

Desain untuk studi evaluatif nonevaluatif
Menurut Shah (1972), dalam suatu horizon penelitian, maka dapat dipikirkan suatu penelitian yang melulu dengan tujuan mengumpulkan pengetahuan atau penelitian dasar, dan pada ujung horizon lain adanya penelitian tindakan yang bertujuan terapan yang hasilnya dengan segera diperlukan untuk merumuskan kebijakan. Kemudian terdapat pula suatu penelitian yang dinamakan penelitian evaluatif, yang merupakan penelitian yang berhubungan keputusan administratif terhadap aplikasi hasil penelitian Suchman (1967), memberi definisi penelitian evaluatif sebagai penentuan (apakah berdasarkan opini, catatan, data subjektif atau objektif) hasil (apakah baik atau tidak baik, sementara atau permanen, segera ataupun difunda) yang diperoleh dengan beberapa kegiatan (suatu program, sebagian dari program, dan sebagainya) yang dibuat untuk memperoleh suatu tujuan tentang nilai atau performance. Kita lihat bahwa orientasi dari penelitian evaluatif hádala asesmen atau apraisal dari kualitas dan kuantitas kegiatan serta meneliti faktor-faktor yang membuat kegiatan tersebut berhasil. Dalam penelitian evaluatif ini, peneliti harus membuat desain sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang aspek-aspek evaluasi dapat terjawab. Misalnya, pertanyaan tentang kualitas dan kuantitas upaya, hasil dari upaya, efisiensi, spesifikasi mengapa dan bagaimana program tersebut sukses dan sebagainya. Desain penelitian hampir selalu menjurus lepada model percobaan sebelum-dan-sesudah pengukuran dari kelompok percobaan dan kelompok kontrol. Desain. Desain harus berisi analisa, bisa di lapangan atau tidak di lapangan. Desain penelitian evaluatif harus selalu mengenai perubahan yang terjadi menurut waktu.
Walaupun tujuan dari penelitian evaluatif dan penelitian nonevaluatif Sangay berbeda, tetapi signifikannya hasil penelitian harus dinyatakan menurut estándar ilmiah yang berlaku.

Desain dengan menggunakan data primer atau sumber data sekunder.
Menurut Shah (1972), sebagian besar dari tujuan desain penelitian adalah untuk memperoleh data yang relevan, dapat dipercaya, dan valid. Dalam mengumpulkan data maka si peneliti dapat bekerja sendiri untuk mengumpulkan data atau menggunakan data orang lain. Jika data primer yang diinginkan maka si peneliti dapat menggunakan teknik dan alat untuk mengumpulkan data seperti observasi langsung (participant atau non participant), menggunakan informan, menggunakan questioner schedule, atau interview guide, dan sebagainya.
Jika data yang diinginkan adalah data primer, maka desain yang dibuat harus menjamin pengumpulan data yang efisien dengan alat dan teknik serta karakteristik dari responden. Jika peneliti ingin menggunakan data sekunder, maka si peneliti harus mengadakan evaluasi terhadap sumber, keadaan data sekundernya dan juga si peneliti harus menerima limitasi-limitasi dari data tersebut. Hal ini lebih-lebih diperlukan jika diinginkan untuk memperoleh data mengenai masa yang lampau.

Desain Penelitian Eksploratif
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:83-84) Berdasarkan permasalahan dan tujuan dari suatu penelitian, desain penelitian dibedakan menjadi penelitian eksploratif dan konklusif. Penelitian konklusif dibedakan lagi menjadi penelitian deskriptif dan eksperimen. Tujuan penelitian eksploratif adalah untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam atas suatu permasalahan yang belum dapat diidentifikasi dan dirumuskan secara mantap. Belum teridentifikasi dan terumuskannya secara mantap permasalahan itu terjadi karena peneliti belum memiliki pengetahuan atau kepustakaan atau sumber pengetahuan lainnya mengenai permasalahan itu secara memadai. Sejalan dengan itu pulalah, hipotesis, sebagai jawaban sementara atas permasalahannya, belum dapat dirumuskan pada penelitian eksploratif.
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa tujuan penelitian eksploratif adalah untuk memperoleh pengetahuan, gambaran yang lebih lengkap dan mantap atas suatu permasalahan dan untuk mengembangkan suatu hipotesis mengenai suatu permasalahan. Atas dasar itulah desain penelitian eksploratif lebih luwes dibandingkan dengan desain penelitian konklusif. Dengan pernyataan lain, semua hal yang direncankan sebelum penelitian dilakukan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk berubah pada saat penelitian itu dilakukan jika dibandingkan dengan penelitian konklusif.
Selain dari segi desain secara umum, instrumen dan subjek pada penelitian eksploratif juga berbeda dari penelitian konklusif. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data pada penelitian eksploratif adalah instrumen yang lebih dimaksudkan untuk menyelidiki sesuatu secara lebih mendalam. Instrumen itu mencakup wawancara mendalam, kelompok fokus, teknik-teknik proyektif, dan lain sebagainya. Instrumen yang demikian diadministrasikan terhadap sejumlah yang relatif kecil subjek penelitian.
Adakalanya penelitian eksploratif disebut juga sebagai penelitian kualitatif atau naturalistik. Disebut sebagai penelitian kualitatif karena data penelitian ini sering kali berupa data kualitatif (bukan dalam bentuk angka). Sejalan dengan itu, teknik analisis data yang digunakan juga adalah teknik-teknik analisis untuk data kualitatif, seperti analisis isi. Disebut juga penelitian naturalistik karena pendekatan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga suasana atau kondisi pelaksanaan penelitian itu─khususnya pada perolehan datanya─menjadi sealamiah mungkin. Misalnya, untuk mengetahui perilaku dari sekelompok masyarakat dalam membeli, pengambil data harus mengikuti kehidupan sehari-hari dari kelompok masyarakat itu sedemikian rupa sehingga pengambil data tidak dipandang lagi sebagai orang ’asing’. Dengan demikian, kelompok masyarakat itu diharapkan akan berperilaku secara wajar dan pengambil data diharapkan akan dapat memperoleh data yang lebih mencerminkan perilaku kelompok masyarakat itu dalam membeli.
Penelitian eksploratif dapat juga dipandang sebagai penelitian pendahuluan. Sebagai penelitian pendahuluan, penelitian eksploratif biasanya harus diikuti lagi lagi dengan penelitian yang lebih lanjut, yakni dengan penelitian konklusif.
Penelitian eksploratif sering dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder yang ada di dalam maupun di luar perusahaan yang melakukan penelitian itu. Data sekunder adalah data yang telah ada dan dimaksudkan untuk menjawab permasalahan yang berbeda dari permasalahan yang akan dijawab pada penelitian yang akan dilakukan. Data primernya sendiri diperoleh melalui pendekatan kualitatif/naturalistik di atas.

Desain Penelitian Eksperimen
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:83-84), ciri utama dari penelitian eksperimen adalah bahwa satu atau lebih variabel independennya dimanipulasi. Pemanipulasian variabel independen itu dimaksudkan untuk mempengaruhi variabel dependennya agar memiliki nilai ke arah tertentu (meningkat atau menurun). Misalnya, untuk mengubah sikap yang negatif menjadi positif dari konsumen terhadap produk X, perusahaan mengubah pesan iklan mengenai produk X itu. Dalam hal ini, pengubahan pesan iklan itu merupakan variabel independen yang dimanipulasi dan sikap konsumen merupakan variabel dependennya. Dari uraian itu kita dapat mengetahui bahwa tujuan dari penelitian eksperimen adalah untuk menjawab permasalahan mengenai ada tidaknya pengaruh dari suatu variabel yang dimanipulasi terhadap variabel dependennya. Dengan pernyataan lain, tujuan penelitian eksperimen adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan atau kaitan kausal (sebab-akibat) antara variabel independen dengan variabel dependennya. Sejalan dengan itulah, penelitian eksperimen disebut juga dengan penelitian kausal.
Uraian selanjutnya mengenai desain eksperimen mencakup pengertian beberapa konsep, kausalitas (dan hubungan resiprokal), variabel extraneous, cara mengendalikan variabel extraneous, validitas hasil, dan jenis desain eksperimen.
1. Pengertian Beberapa Konsep
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:87),Pengertian variabel dependen, independen (disebut perlakukan pada penelitian eksperimen), dan subjek penelitian (disebut subjek eksperimen pada penelitian eksperimen) telah dikemukakan. Selain itu, pada penelitian eksperimen dikenal juga pengacakan subjek, pengacakan perlakuan, kelompok eksperimen, dan kelompok kontrol. Pengertian semua konsep itu akan digunakan dalam menguraikan desain eksprimen melalui contoh berikut:
Perusahaan Darmaji Katering memiliki 600 orang pelanggan. Sekali sebulan, perusahaan itu memberikan angket guna mengetahui keluhan, saran, dan yang sejenisnya dari pelanggan itu. Akhir-akhir ini, perusahaan mengalami masalah mengenai kenaikan biaya-biaya. Untuk mengatahi hal itu, perusahaan memutuskan untuk mengurangi kualitas menu makanannya daripada menaikkan harganya. Untuk itu, perusahaan mengadakan penelitian eksperimen sebelum menetapkan untuk melaksanakan keputusan itu untuk seterusnya. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahap berikur.
• Pertama, peneliti memilih secara acak sebanyak 100 dari populasi sebanyak 600 pelanggan itu untuk dijadikan sampel
• Kedua, sampel terpilih terdiri dari 100 pelanggan itu dipilih lagi secara acak untuk dijadikan kelompok satu atau kelompok dua. Pelanggan pada tiap kelompok ditetapkan sebanyak 50 pelanggan.
• Ketiga, dari kedua kelompok itu dipilih lagi secara acak satu kelompok untuki dijadikan kelompok eksperimen (KE) dan kelompok yang tidak terpilih dijadikan kelompok kontrol (KK)
• Keempat, kepada semua pelanggan yang terpilih menjadi KE dikirimkan makanan yang kualitas menunya telah dikurangi dan ini berlangsung selama satu bulan. Sebaliknya kepada semua pelanggan yang terpilih menjadi KK tetap dikirimkan makanan seperti menu pada bulan sebelumnya dan ini berlangsung selama sebulan juga.
• Kelima, pada akhir bulan diberikan angket untuk diisi oleh keseratus subjek penelitian itu.
• Keenam, pembandingan rata-rata keluhan antara subjek pada KE dan KK melalui pengujian secara statistik (Misalnya dengan Anava)

2. Syarat Kausalitas
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:87),Antara dua variabel dapat memiliki hubungan kausal atau resiprokal. Dua variabel (X dan Y) disebut memiliki hubungan kausal bila X merupakan penyebab terjadinya Y, dan tidak boleh sebaliknya. Jadi, hubungan kausal bersifat satu arah. Hubungan kausal disebut juga hubungan yang tidak simetris. Dua variabel (X dan Y) disebut memiliki hubungan resiprokal jika X merupakan penyebab terjadinya Y, dan Y juga merupakan penyebab terjadinya X. Jadi hubungan resiprokal bersifat dua arah.
Menurut Seltiz,dkk(1959), ada tiga persyaratan agar antara variabel independen Xdisebut memiliki hubungan kausal dengan variabel dependen Y. Pertama, urutan waktu terjadinya masing-masing variabel,X terjadi terlebih dahulu daripada Y atau sebaliknya. Kedua, tidak ada variabel lain yang mungkin menjadi penyebab terjadinya Y. Ketiga, terdapat variasi konkomitan (bersama, sesuai, seiring) antara X dan Y. Dalam bahasa statistik dinyatakan bahwa antara X danY terdapat kovariansi atau korelasi. Pernyataan mengenai adanya kovariansi itu didasarkan pada hipotesis suatu penelitian.

3. Variabel Extraneous pada Eksperimen dan Pengendaliannya
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:87-89),Yang dimaksud dengan variabel extraneous adalah variabel-variabel independen yang berkaitan dengan suatu variabel dependen, tetapi variabel-variabel independen itu tidak diteliti. Jadi variabel extraneous merupakan semua variabel independen yang tidak menjadi perhatian pada suatu penelitian dan kontribusinya terhadap variabel yang diteliti tidak dikontrol oleh peneliti sehingga mempengaruhi validitas internal dari hasil penelitian yang dilakukan. Variabel extraneous berkaitan dengan sejarah, kematangan (maturitas), pengukuran, instrumen, regresi statistik, bias pemilihan subjek penelitian, dan berkurangnya subjek penelitian (mortalitas). Sejarah yang dimaksudkan berkaitan dengan kejadian-kejadian khusus yang berada di luar eksperimen yang dilakukan, tetapi terjadi bersamaan dengan eksperimen yang dilakukan. Pada contoh eksperimen di atas misalnya, ada pesaing baru yang menawarkan makanan dengan menu yang lebih berkualitas, tetapi dengan harga yang lebih murah. Keberadaan pesaing baru itu tentu saja dapat mencemari hasil penelitian yang dilakukan.
Kematangan berkaitan dengan perubahan biologis ataupun psikologis yang merupakan fungsi dari berlakunya waktu. Untuk contoh eksperimen di atas, bila angket diberikan pada waktu subjek sedang lelah, maka hasilnya mungkin akan berbeda jauh bila dibandingkan dengan pada waktu subjek dalam keadaan yang normal.
Variabel pengukuran yang mungkin mencemari hasil dari suatu penelitian adalah pengukuran ulang yang dilakukan. Misalnya, kita akan melakukan eksperimen mengenai penggunaan harga ganjil (misalnya Rp 99.999,-) untuk mengetahui apakah subjek penelitian akan lebih cenderung mempersepsikan harga ganjil itu ke angka genap yang berada di bawahnya (yaitu Rp 90.000) atau tidak. Bila tujuan penelitian itu diberitahukan kepada subjek sebelum eksperimen dilakukan, subjek mungkin akan cenderung mengingat-ingat harga ganjil ini sehingga ketika persepsinya diukur, mereka lebih cenderung untuk menyatakan bilangan 99.999 atau 100.000 daripada 90.000.
Instrumen yang digunakan dapat juga mencemari hasil penelitian. Hal ini dapat terjadi jika instrumen yang digunakan memiliki reliabilitas yang rendah, terutama jika data diperoleh dari observasi, misalnya observer yang ditugaskan untuk mengamati subjek penelitian selama tiga jam mungkin akan mengalami kelelahan sehingga akan mempengaruhi hasil observasi.
Regresi secara statistik terjadi karena adanya penurunan skor dari para subjek yang memiliki skor yang ekstrem tinggi dan peningkatan skor dari para subjek yang memiliki skor yang ekstrem rendah. Para tenaga penjualan yang memiliki prestasi kerja yang sangat tinggi secara rata-rata, misalnya, akan memiliki kecenderungan untuk mengalami penurunan prestasi, dan sebaliknya.
Bias pemilihan terjadi karena pemilihan subjek untuk dijadikan sampel, untuk dimasukkan ke dalam suatu kelompok dan untuk diberi perlakuan. Walaupun pemilihan dilakukan secara acak, tetapi kemungkinan subjek yang terpilih adalah subjek yang memiliki karakteristik tertentu senantiasa ada. Misalkan, kita memberikan suatu program pelatihan baru untuk meningkatkan kinerja suatu agen perusahaan asuransi. Untuk itu, kita menggunakan satu kelompok eksperimen untuk diberikan pelatihan itu dan satu kelompok yang tidak diberikan pelatihan. Hasilnya, misalnya, adalah bahwa rata-rata kinerja agen pada kelompok eksperimen jauh lebih tinggi daripada rata-rata kinerja agen pada kelompok kontrolnya. Hal itu mungkin saja terjadi karena para agen yang terpilih menjadi kelompok eksperimen secara kebetulan adalah para agen yang memang kinerjanya tinggi sedangkan para agen yang terpilih menjadi kelompok kontrol adalah agen yang memang kinerjanya rendah. Sifat kebetulan itu dapat saja terjadi, walaupun pengacakan telah dilakukan untuk menentukan agen mana yang termasuk sebagai kelompok eksperimen atau kontrol.
Berkurangnya subjek penelitian dapat terjadi karena subjeknya meninggal dunia sebelum penelitian selesai atau karena subjek penelitian mengundurkan diri atau pindah atau yang sejenisnya.
Sebagian dari variabel extraneous dapat dikendalikan dengan cara pengacakan, penjodohan, pengendalian secara statistik, dan pengendalian desain yang digunakan


4. Validitas Eksperimen:Laboratorium dan Lapangan
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:89),Berdasarkan tempat pelaksanaannya, penelitian eksperimen dibedakan menjadi penelitian eksperimen laboratorium dan Lapangan. Eksperimen laboratorium dilakukan di dalam laboratorium dan eksperimen lapangan dilakukan di lapangan, yaitu di luar laboratorium, di tempat di mana masalahnya sebenarnya berada.
Pada eksperimen lapangan, lebih mungkin dilakukan pengendalian terhadap hal-hal yang mungkin mencemari pelaksanaan maupun hasil eksperimen yang dilakukan. Oleh karena itulah, eksperimen laboratorium memiliki validitas internal yang lebih baik daripada eksperimen lapangan karena hasil yang (relatif) sama lebih mungkin diperoleh bila eksperimen laboratorium dulangi bila dibandingkan dengan eksperimen lapangan. Hal itu dapat dimengerti karena kemungkinan untuk menciptakan situasi eksperimen yang sama atau mirip dan mengendalikan hal-hal lain yang mungkin mencemari proses maupun hasil eksperimen lebih besar bila dibandingkan dengan eskperimen lapangan. Sebaliknya, bila dibandingkan dengan eksperimen lapangan, eksperimen laboratorium memiliki validitas eksternal yang lebih rendah. Artinya, hasil eksperimen laboratorium memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk dapat diterapkan pada keadaan yang sebenarnya (di lapangan) dengan hasil yang (relatif) sama bila dibandingkan dengan hasil eksperimen lapangan. Hal itu dapat dimengerti karena proses maupun kondisi pelaksanaan eksperimen laboratorium berbeda dari proses dan kondisi yang sebenarnya terdapat di lapangan di mana masalah yang diteliti itu sebenarnya berada. Dengan pernyataan lain, kealamiahan pelaksanaan eksperimen laboratorium lebih rendah daripada eksperimen lapangan. Jadi, penggeneralisasian hasil eksperimen lapangan terhadap lingkup yang lebih luas atau populasinya lebih memungkinkan daripada hasil yang diperoleh dari penelitian laboratorium.

5. Jenis Desain Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi desain praeksperimen, eksperimen yang sebenarnya, eksperimen semu, dan desain statistik. Pada desain praeksperimen, tidak terdapat prosedur yang acak pada pemilihan subjek penelitian guna mengendalikan variabel extraneous. Sebaliknya, pada desain eksperimen yang sebenarnya, peneliti melakukan pengacakan dalam memilih subjek penelitian untuk dijadikan anggota kelompok-kelompok eksperimen maupun dalam menentukan perlakuan untuk tiap kelompok eksperimen.
a. Desain praeksperimen
Menurut Lerbin. R. Aritonang. R (2007:90), desain praeksperimen terdiri atas one-shot case study, desain pengukuran-ulang satu kelompok, dan desain kelompok statis.
b. Desain eksperimen yang sebenarnya
c. Desain eksperimen semu

Beberapa Catatan Mengenai Desain Eksperimen
Menurut Kerlinger (1986), ketiga desain penelitian di atas dapat dipandang sebagai tiga kegiatan yang berurutan, dimulai dari penelitian eksploratif, kemudian diikuti dengan penelitian deskriptif, dan diakhiri dengan penelitian eksperimen. Namun demikian, tidaklah berarti bahwa ketiga desain itu bersifat diskrit, terpisah sama sekali. Alasannya adalah bahwa adakalanya hal yang dijelaskan pada desain penelitian eksperimen digunakan juga pada penelitian konklusif. Sehubungan dengan itu, Simon (1969;dalam Churchill, 1995) menyatakan bahwa tidak pernah ada metode tunggal, yang standar, yang benar untuk melakukan penelitian.

















DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, Lerbin R. 2007. RISET PEMASARAN. Jakarta: Ghalia Indonesia
Kerlinger, F.N. 1976. Foundations of behavioral research. New York: Holt, Rinehart and Winston

Nazir, mohammad. 1988. METODE PENELITIAN. Jakarta: Ghalia Indonesia
Suryabrata, sumadi. 1990. METODOLOGI PENELITIAN. Jakarta: Rajawali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thaks,telah mampir di blog saya.