Kamis, 02 Juli 2009

BAB IV
The Retail Consumer

Agar dapat membahas mengenai konsumen retail dengan baik, maka pada awalnya harus terlebih dahulu dibahas tentang 4 kelompok seksi penting dalam perubahan kondisi demografis konsumen itu sendiri, yang meliputi: generational cohorts, perbedaan etnikal, pendapatan masyarakat dan tingakt penggunaan internet oleh konsumen.

Generatinoal Cohorts

Para peretai dan vendornya menemukan bahwa sangat penting untuk membagi orang – orang kedalam bagian – bagian generasi dan membedakan pasar mereka. Hal ini dikarenakan bahwa biasanya orang yang memiliki generasi sama akan memiliki kebiasaan pembelian yang juga serupa yang diakibatkan mereka telah berbagi pengalaman dan berada ditingakatan masa yang sama.

Generational Cohorts Jarak Tahun Kelahiran Umurnya ditahun 2001
Generasi Y 1977 – 1955 6 - 24 tahun
Generasi X 1965 – 1976 25 - 36 tahun
Baby Boomer 1946 – 1964 37 - 55 tahun
Senior Sebelum 1946 56 tahun dan lebih tua

Walaupun banyak jalan untuk membagi – bagi bagian generasi, terdapat 4 kelompok yang utama yaitu:

• Generasi Y

Merupakan kelompok yang termuda dibandingkan kelompok lainya, juga merupakan kelompok yang paling besar dimana akan terus bertambah besar dari tiap angka kelahiran yang terjadi. Kelompok ini dapat dibedakan menjadi anak – anak (umur 6 – 14 tahun) dan remaja (15 – 24 tahun). Walaupun 2 kelompok ini memiliki banyak kesamaan, tetapi mereka memiliki pendekatan pasar yang sangat berbeda. Generasi Y memperlihatkan berbagai pola perilaku paradoks:

- Walaupun kebanyakan ingin memiliki kualitas hidup yang tinggi, tetapi mereka sering melakukan banyak aktivitas yang menimbulkan stress.
- Walaupun mereka melakukan bayak kegiatan menyehatkan, tetapi mereka juga suka berkecimpung dengan obat – obat terlarang.
- Walaupun mereka malas untuk berkerja, tetapi mereka menyadari bahwa mereka memerlukan uang untuk memuaskan kebutuhan konsumsi mereka.

Generasi Y memiliki tendensi untuk menunjukan perilaku dan pola berbelanja yang sama diseluruh dunia. Para ahli percaya bahwa alas an dari kesamaan mereka adalah karena ini merupakan generasi pertama yang terikat oleh situs media secara luas. Peluang untuk memasarkan produk kepada mereka sangatlah besar, karena:

1 Mereka memiliki uang mereka sendiri untuk dibelanjakan.
2 Anak – anak dan remaja mempengaruhi pembelian rumah tangga melalui meminta pada orang tuanya atau mereke berbelanja sendiri.

[Wikipedia.com] Generasi ini sering disebut juga sebagai kelompok milennials, net generation atau trophy kids yang lahir ditahun 1940 – 1950 dan mulai berkembang pesat pada tahun 1980 – 1990. dijelaskan bahwa generasi ini merupakan generasi yang akrab dengan teknologi yang ada sekarang. Menurut penelitian bahwa:

- 97% kelompok ini punya komputer
- 97% kelompok ini mendownload berbagai file dari internet
- 94% memiliki handphone
- 76% menggunakan layanan pesan singkat
- 75% anggota yang masih duduk dibangku kuliah memiliki identitas diri diinternet untuk keperluan sosialisai ( Friendster atau Facebook )
- 60% memiliki peranti musik portable sperti I-Pod
- 14% sering melakukan belanja secara online
- 8% memiliki kecanduan terhadap game online
-
Dalam hal ini para pengusaha eceran harus mampu menggunakan dengan baik peluang yang ada, dimana online shooping dan advertising melalui internet sangat berpengaruh bagi mereka, karena hampir 100% kelompok ini mampu melakukan akses ke dunia maya tersebut.
Beberapa strategi yang digunakan oleh peretail untuk menarik konsumen generasi Y meliputi:

 Membuat orang – orang berusia muda terlibat dalam toko yang dikelolanya.
 Memiliki peduli terhadap lingkungan sekitar, perlindungan binatang peliharaan dan isu – isu sosial lainya.
 Kejujuran. Peretail akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berelasi dengan kaula muda jika mereka mampu mengilustrasikan kekuatan dan kelemahan mereka melalui humor yang menyenangkan.
 Melakukan iklan dan promosi dengan acara olahraga atau musik.
 Membuat toko terlibat dalam kegiatan pelayanan masyarakat.

Sedangkan beberapa strategi khusus peretail untuk menarik konsumen anak – anak ialah:

 Mengembangkan kerja sama dengan sekolah – sekolah
 Memberika merchandise dalam kelompok yang tersusun sehingga menghilangkan perasaan “ terlalu banyak untuk dipilih”
 Menciptakan department yang mampu menyentuh perasaan konsumennya.
Selain itu, menganalisa daerah pasar juga sangat penting agar para peretail dapat lebih mampu menyerap pasar dari konsumen ini. [Davidson, Sweeney and Stampfl 1988, “The Retailing Management 6/E” 240] Bebereapa hal yang penting untuk dianalisa berkaitan dengan daerah pasar ialah:
- Dimensi populasi secara umum
- Jumlah populasi target pasar
- Transportasi dan jaringan jalan raya
- Karakteristik ekonomis
- Tingkat efektivitas daya beli
- Potensi market disekitar area pasar tersebut
- Budaya konsumen dan cselera fashionnya
- Tingkat intensitas kompetitif peretail lain didaerah tersebut
- Jaringan media dan biaya yang harus dikeluarkan
- Kapabilitas distribusi
- Keunikan karakteristik lingkungan daerah sekitara toko peretail
- Iklim bisnis yang berkaitan dengan ketersediaan berbagai sumber - sumber modal
- Peluang periklanan dan biaya yang harus dikeluarkan

• Generasi X

Generasi X atau sering juga disebut baby busters, FLYERS atau twentysomething ahir antara tahun 1965 dan 1976. Generasi ini adalah generasi pertama bertipikal: mereka tumbuh didalam rumah sementara kedua orang tua mereka pergi berkerja. Hampir dari separuh jumlah orang – orang dalam generasi X memiliki tingkat pendidikan yang kurang memadai seperti baby boomer, karena orang – orang dalam generasi X 50% nya memiliki orang tua yang bercerai atau tewas dalam perang yang terjadi pada saat itu. Walaupun begitu generasi X mampu melakukan total pembelian produk retail sampai 125 juta Dolar pertahun. Hal ini dikarenakan fakta bahwa orang – orang dari generasi inipun akan menikah dikemudian hari, memiliki rumah, dan akan hidup sebagai orang tua lebih lama daripada generasi yang sebelumnya.
Generasi X secara umum digambarkan sebagai konsumen yang cerdik, lebih sinis daripada golongan baby boomer. Mereka lebih tidak mempercayai iklan – iklan dan apa yang dikatakan pekerja sales kepada mereka. Mereka biasanya telah belajar tentang pilihan berbelanja pada usia muda, sehingga mereka memiliki pengetahuan lebih banyak mengenai jenis – jenis produk dan lebih menghindari resiko dalam berbelanja dibandingkan pembeli lainya. Agar para peretail dapat menyerap pasar dari kelompok ini secara efektif, paeretail harus berusaha lebih beradaptasi dan memahami sifat sinis dari orang - orang yang berumur 18 – 29. banyak para peretail yang telah menyadari bahwa kunci kesuksesan untuk menyerap keuntungan dari golongan kelompok ini ialah dengan menggalakan teknik penjualan yang perduli dengan lingkungan sekitar ( green marketing ) [Michael Levy & Barton A. Weitz “Retailing Management 2nd edition” hal 67] dengan tujuan untuk memancing para busters yang rata – rata banyak yang perduli dengan kelestarian alam. Unsure – unsure sperti daur ulang, menghentikan penggunaan box yang berbahan Styrofoam dan memberikan sbagian kecil pemasukan peretail untuk disumbangkan demi menjaga kelestarian hutan hujan adalah beberapa bagian dari sistem green marketing. Kelompok ini lebih banyak memerlukan stimulasi visual daripada kelompok lain. [Michael Levy & Barton A. Weitz “Retailing Management 2nd edition” hal 67]. Dalam hal ini, display toko yang menarik adalah kekuatan utama yang dapat digunakan untuk menarik perhatian dari konsumen dikelompok ini. Bagi peretail yang mampu menggunakan super models untuk mengiklankan tokonya pada masyarakat baik melalui posters, pamphlet maupun iklan ditelevisi, maka hal tersebut akan menjadi system pemasaran utama yang berperan sangat penting. Beberapa strategi spesifik yang digunakan peretail untuk menarik konsumen dari generasi X meliputi:

 Tidak menyerbu para konsumen untuk berbelanja
 Memberikan berbagai pilihan dan informasi mengenai produk – produk yang dijual
 Menggunakan teknologi kapanpun dan bagaimanapun jika memungkinkan
Sedangkan sesungguhnya dalam retail management terdapat 3 komponen dasar manajemen strategis yang harus diterapkan dalam menetapkan strategi – strategi yang cocok untuk menari berbagai konsumen dari berbagai kelompok, golongan dan kalangan [Davidson, Sweeney and Stampfl 1988, “The Retailing Management 6/E” 132 – 133] yaitu:

- Mengembangkan pernyataan mengenai suatu tujuan, misi, atau kegiatan usaha tertentu
- Mendefinisikan tujuan spesifik dari suatu usaha retail terhadap konsumen yang dihadapinya
- Mengembangkan strategi – strategi dasar yang akan mengarahkan dan memerintah tindakan usaha retail untuk mencapai objektif dan memenuhi misinya

• Baby Boomer

Kelompok baby boomer lahir sekitar tahun 1946 – 1964. Kelompok baby boomer yang lebih tua berumur 17 – 23 tahun yang hidup pada jaman kemakmuran ekonomi dan ketegangan politik. Kebanyakan kelompok baby boomer yang lebih tua ini lebih cepat mencapai tahap siklus hidup berkeluarga yang sering disebut juga sklus sarang kosong dimana keluarga mereka telah dewasa dan meninggalkan rumah. Disisi lain, kelompok baby boomer yang lebih muda sedang menjalani kehidupan masa anak – anak. Oleh karena itu kelompok yang lebih tua memiliki waktu senggang dan uang lebih banyak daripada kelompok muda.
[Wikipedia.com] yang dimaksud dengan baby boomer ialah semua orang yang terlahir pada era perang dunia kedua sekitar tahun 1946 – 1964. taraf pendidikan baby boomer dapat lebih tinggi dibandingkan generasi lainya karena kelompok mereka menyadari kalau orang tua mereka hidup lebih lama, sehingga mereka dapat mencari pendidikan perkuliahan yang jau lebih tinggi.
Beberapa ciri dari kelompok baby boomer:

- Kelompok baby boomer cenderung lebih individualistis
- Waktu luang adalah prioritas bagi kelompok baby boomer
- Mereka percaya bahwa mereka dapat mengurus diri mereka sendiri, walaupun mereka agak ceroboh dalam menggunakan uang mereka
- Mereka memiliki obsesi untuk menjaga dan merawat masa muda mereka
Walaupun mereka memiliki jumlah yang paling banyak serta kekayaan yang besar, kelompok baby boomer merupakan tantangan yang sangat signifikan bagi para peretail. Hal ini dikarenakan mereka tidak perlu membeli banyak barang – barang keperluan seperti furniture, perkakas dan pakaian – pakaian terbaru. Orang semakin dewasa akan berkurang tingkat materialistisnya. Produk – produk yang biasanya dibeli oleh kelompok baby boomer ialah: vitamin, perjalanan keluar kota / negeri, produk untuk meningkatkan kualitas rumah mereka, dan produk lain yang memiliki nilai pengalaman yang tinggi.
[Davidson, Sweeney and Stampfl 1988, “The Retailing Management 6/E”] terdapat beberapa kriteria dalam membagi segmen – segmen konsumen:

1. Dapat Diukur. Sehingga segmen mudah untuk diposisikan serta terstruktur agar tidak menimbulkan kebingungan dalam menyusun variabel yang ada
2. Homogenus. Karakteristik tiap – tiap segmen dari konsumen retail harus serupa.
3. Menjelaskan Perbedaan. Tiap segmen harus memiliki perbedaan yang berarti jika dibandingkan dengan segmen lainya untuk menilai peluang – peluang para peretail dari riap – tiap segmen.

Dalam hal ini, yang terpenting selain mengetahui kelompok – kelompok konsumen yang akan menjadi pangsa pasar yang potensial bagi perusahaan retail ialah bahwa mengetahui berbagai alternative – alternative strategi baik strategi pasar maupun keuangan yang harus digunakan untuk menghadapi perilaku konsumsi kelompok – kelompok tersebut. Strategi pasar disini akan membantu retailer [Davidson, Sweeney and Stampfl 1988, “The Retailing Management 6/E” 135] untuk:

- Menentukan secara spesifik segmentasi pasar dan pangsa pasar yang harus dikejar oleh usaha retail
- Menentukan performa kompetitif yang diinginkan oleh dan dipilih oleh pangsa pasarnya ( sering disebut juga market strategy objective )
- Menentukan seberapa kuat daya tarik usaha retailer terhadap para konsumennya dan meluncurkan posisi kompetitifnya diantara peretail lain

Sedangkan strategi keuangan disini berguna untuk membantu para peretail dalam:

- Mengidentifikasi tingkat performa keuntungan finansial yang diharapkan dapat draih oleh perusahaan retail
- Menciptakan suatu jalur level performa finansial untuk mencapai tingkat performa keuangan tertentu

Hal lain yang harus diperhatikan oleh peretail khususnya diAmerika untuk mencapai kesuksesan selain memperhatikan pembedaan keempat kelompok generational cohorts [Michael Levy & Barton A. Weitz “Retailing Management 2nd edition” hal 64] ialah hal – hal berikut:

- Jumlah orang – orang yang dikategorikan berumur 65 tahun keatas harus diperkirakan 2 kali lebih banyak daripada orang yang berusia 50 tahun, membolehkan kaum usia lanjut meliputi 20% dari jumlah orang – orang didalam kategori lain
- 12% perumah tangga diAmerika adalah anak – anak dan wanita dan tidak memiliki suami. Sedangkan 3% dari mereka ialah perumah tangga yang memiliki anak dan hanya dikepalai oleh seorang ayah, dan segmen ini terus tumbuh hingga 30%.
- Pada tahun 1990, sekitar 23.7 juta Hispanic yang tinggal diAmerika, mengkonstitusi sekitar 9%dari jumlah populasi secara keseluruhan.

Sedangkan menurut kutipan dari buku [Michael Levy & Barton A. Weitz “Retailing Management 2nd edition” hal 68 - 69] terdapat suatu istilah penting lain yang berkaitan erat dengan retail consumer, yaitu Silver Streakers. Disebutkan bahwa silver steakers ialah merupakan pangsa pasar yang sangat penting bagi para pedagang retail karena banyak dari anggota kelompok ini yang memiliki uang lebih bersikap terbuka dan memiliki kebebasan dalam penentuan berbelanja. Istilah lain untuk silver streakers ini ialah empty nester, jitterbug, gray markets, dan lainya.
Walaupun demikian, dikatakan pangsa pasar ini memiliki beberapa pola perilaku berbelanja yang dapat menjadi tantangan bagi para peretail yang ingin menyerap keuntungan dari kelompok ini. Karena, menurut survey yang dilakukan American Association of Retired Person (AARP), kelompok pangsa pasar ini sangat suka mengeluh, membutuhkan perhatian spesial dari para penjual, sangat suka menghabiskan waktu untuk mencari informasi produk yang akan dibelinya melalui internet, dan tidak menyukai perubahan jika dibandingkan dengan kelompok lainya.

Dimasa yang lampau, kelompok silver streakers ini sangat konservatif terhadap jumlah tabungan mereka, karena mereka memiliki keinginan untuk mewariskan sesuatu kepada anak – anak mereka. Tetapi dizaman sekarang perilaku seperti itu telah berubah, dimana mereka suka membeli barang atau jasa yang merupakan kebutuhan sekunder dan bahkan tertier. Beebrapa produk atau jasa yang biasanya dibeli oleh kelompok ini ialah: Tiket berjalan – jalan, rumah kedua, mobil mewah, peralatan elektronik, investasi, perabotan rumah tangga, pakaian, seringkali membeli bingkisan untuk orang terdekat.

Dalam melakukan penjualan retail kepada golongan silver streaker , disarankan melakukan 2 penggolongan luas sebagai yaitu pelayanan dan penentuan harga [Michael Levy & Barton A. Weitz “Retailing Management 2nd edition” hal 69] sebagai berikut:

 Pelayanan:
 Menyediakan seorang pegawai yang mengetahui tata letak barang ditoko untuk membantu para konsumen dalam berbelanja
 Melatih para pegawai agar mengerti apa yang diperlukan oleh konsumen yang lebih tua termasuk penjelasan yang jelas dan mudah dimengerti serta pengasuransian kembali
 Mempekerjakan orang yang lebuh tua ditiap – tiap shift kerja yang ada untuk membantu konsumen yang berusia lanjut
 Memberikan keyakinan pada konsumen berusia lanjut untuk memesan barang melalui telepon atau mail
 Menyediakan mereka tempat untuk duduk diberbagai area toko
 Memajang berbagai jenis tanda – tanda yang penting berukuran besar
 Jangan terlalu sering untuk mengubah – ubah letak – letak produk yang ada ditoko
 Berikan sistem pencahayaan yang baik ditoko
 Lokasikan kamar kecil ( restroom ) didepan toko untuk memberikan keyakinan akan kenyamanan dan keamanan
 Jangan meletakan produk yang seringkali dibeli oleh konsumen yang berusia lanjut diposisi yang terlalu bawah atau terlalu tinggi pada rak pajang

 Penentuan Harga:
Konsumen berusia lanjut seringkali telah pensiun dari pekerjaanya dan terkadang memiliki pendapatan yang tetap dan terbatas. Dalam hal ini pelaku retail harus menyediakan harga yang terbaik dan mampu mereka jangkau dengan penghasilan mereka:
 Sering menawarkan hari – hari spesial dengan harga diskon kepada para konsumen berusia lanjut
 Memberikan suatu bentuk pelayanan special pada konsumen berusia lanjut seperti misalnya acara hari diskon besar – besaran untuk para konsumen berusia diatas 65 tahun dan memberikan berbagai jenis produk – produk yang seringkali dignakan oleh orang berusia lanjut.

• Pengaruh Persepsi Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Konsumen terhadap Keinginan Membeli

Perkembangan industri retail yang sangat cepat menuntut produsen menyiapkan saluran distribusi yang efektif. Sebagian besar produsen tidak langsung menjual barang mereka kepada pemakai akhir. Di antara produsen dan pemakai terdapat saluran pemasaran, sekumpulan perantara pemasaran yang melakukan berbagai fungsi dan menyandang berbagai nama (Kotler, 2000). Ada berbagai level saluran yang menghubungkan produsen dengan pelanggan akhir. Saluran terakhir yang menghubungkan produsen dengan pelanggan akhir adalah pengecer (retailer).
Menurut [Kotler (2000)] usaha eceran meliputi semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis. Pengecer adalah usaha bisnis yang volume penjualannya terutama berasal dari penjualan eceran. Organisasi apa pun yang menjual kepada konsumen akhir baik itu produsen, grosir, atau pengecer dikatakan melakukan usaha eceran.

Menurut [Berman dan Evans dalam Setywan (2004)] ada beberapa hal yang membuat industri retail penting untuk dipelajari yaitu; pertama, implikasi retailing dalam perekonomian global. Penjualan retailing dan daya serap tenaga kerjanya menjadi kunci perekonomian global. Kedua, fungsi retail dalam rantai distribusi. Dalam rantai distribusi, retail berfungsi menjadi penghubung antara final consumer, dengan manufacturer dan wholesaler. Ketiga, hubungan antara pengecer dengan pelanggan. Cara pandang yang berbeda antara retailer dan supplier perlu diatasi. Masalah yang perlu diatasi adalah kontrol terhadap retail, alokasi profit, jumlah retail pesaing, lokasi, display dan masalah promosi.
Organisasi retail sangat beragam dari yang nyata hingga di dunia maya (virtual). Ada beberapa jenis organisasi retail [kotler,2000] yaitu: swalayan; toko khusus, toko serba ada, pasar swalayan, toko kenyamanan (convinience) dan pengecer potongan harga, swapilih, pelayanan terbatas, pelayanan penuh. Industri retail saat ini berusaha menemukan strategi pemasaran baru guna menarik dan mempertahankan pelangggan dengan menawarkan lokasi yang dekat, jenis produk yang unik, dan pelayanan yang baik. Seperti halnya semua pemasar, retail harus menyiapkan rencana pemasaran yang meliputi keputusan mengenai pasar sasaran, ragam dan pengolahan produk, pelayanan produk dan suasana toko. Retail merupakan salah satu jenis saluran industri jasa yang berbeda dengan jenis industri manufaktur, hal ini menyebabkan kesukaran dalam mengukur kinerja industri retail. Alat pengukuran kinerja jasa dikembangkan oleh Parasuraman (1988) untuk mengukur kepuasan konsumen perusahaan jasa yaitu SERVQUAL (service quality).
Pemberian atau pelayanan jasa oleh perusahaan retail mungkin dapat mengalami kegagalan dalam memberikan kepuasan kepada pelanggan apabila perusahaan tidak mengetahui bentuk layanan yang sebenarnya diinginkan pelanggan. Persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan suatu toko eceran mungkin akan memberikan kepuasan kepada pelanggan yang kemudian menciptakan minat bagi pelanggan untuk melakukan pembelian di toko eceran tersebut (Setyawan dan Ihwan, 2004).
Penelitian mengenai service quality perception dan purchase intention pada industri komunikasi, transportasi, kesehatan dan hiburan pernah dilakukan Taylor dan Baker (1994). Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Setyawan dan Ihwan (2004) yang mereplikasi penelitian Taylor dan Baker pada perusahaan retail. Penelitian ini menguji pengaruh service quality perception dengan satisfaction sebagai variabel antara (moderating variable) namun hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel service quality perception dan variabel satisfaction merupakan variabel bebas (independent variable). Penulis melakukan replikasi dari penelitian terdahulu dengan menetapkan variabel service quality perception dan variabel satisfaction sebagai variabel yang independen sesuai hasil penelitian Setyawan dan Ihwan (2004). Replikasi penelitian dilakukan untuk menguji hasil penelitian Setyawan dan Ihwan (2004) dengan mengambil responden mahasiswa. Hal ini didasari bahwa mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan studinya akan melakukan pembelian eceran khususnya perlengkapan tulis seperti buku tulis dan buku acuan studi. Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah ada pengaruh service quality perception dan satisfaction terhadap purchase intention baik secara simultan maupun parsial.
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang akan dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

 Apakah service quality perception dan satisfaction berpengaruh terhadap purchase intention secara simultan?
 Apakah service quality perception dan satisfaction berpengaruh terhadap purchase intention secara parsial

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengaruh service quality perception dan satisfaction terhadap purchase intention secara simultan dan parsial. Variabel service quality perception dan satisfaction diekspektasikan secara bersama-sama maupun secara parsial mempengaruhi variabel purchase intention.

• Service Quality pada Usaha Retail

Menurut [Kotler (2000)] usaha eceran meliputi semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis. Penelitian mengenai service quality dan purchase intention sudah banyak dilakukan antara lain Rusk dan Zahorik (1993), Taylor & baker (1994) dan Olsen (2002) sedangkan di Indonesia dilakukan oleh Setyawan dan Ihwan (2004). Quality dalam penelitian ini memiliki pengertian berdasarkan konsep perceived quality. Perceived quality adalah penilaian konsumen akan entitas kesempurnaan atau superioritas. Parasuraman (1985) dalam Chang (2002) mendefinisikan service quality sebagai sebuah perbandingan dari harapan pelanggan dengan persepsi dari layanan nyata (actual performance) yang mereka terima. Service quality perception juga didefinisikan sebagai persepsi konsumen secara keseluruhan baik keunggulan dan kelemahan dari organisasi dan pelayanannya (Taylor dan Baker dalam Setyawan dan Ihwan, 2004).

Konsep service quality yang dikemukakan Parasuraman (1988) dalam Setyawan dan Ihwan (2004) terdiri dari lima dimensi yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Namun konsep ini mengalami perubahan seiring dengan kritik yang dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain, Brown, Churchill dan Peter (1993) yang mengemukakan bahwa konsep ini mengalami masalah dalam perbedaan penilaian. Mereka menyarankan agar menggunakan alat pengukuran psikometrik. Penelitian yang dilakukan Carman (1990) justru menemukan adanya 5 sampai dengan 9 dimensi dari service quality dengan factor analysis. Dabholkar, Thorpe dan Rentz (1996) mengemukakan bahwa dimensi Servqual lebih relevan untuk penelitian dengan setting perusahaan retail.



• Konsep Kepuasan Pelanggan

Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya, sedangkan Wilkie mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa (Tjiptono, 1997).
Perusahaan retail banyak menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan konsumen salah satunya adalah memastikan kualitas produk dan jasa memenuhi harapan konsumen. Pemenuhan harapan akan menciptakan kepuasan bagi konsumen. Setiap perusahaan retail yang menggunakan strategi kepuasan konsumen akan menyebabkan para pesaingnya berusaha keras merebut atau mempertahankan konsumen suatu perusahaan. Kepuasan konsumen merupakan strategi jangka panjang yang membutuhkan konsumen baik dari segi dana maupun sumber daya manusia (Schnaars, 1991). Beberapa strategi yang dipadukan untuk meraih dan meningkatkan kepuasan konsumen adalah:

1. Relationship Marketing (Mc Kenna, 1991) yaitu strategi dimana transaksi pertukaran antara pembeli dan penjual berkelanjutan, tidak berakhir setelah penjualan selesai. Dengan demikian terjalin suatu kemitraan dengan pelanggan secara terus menerus, yang pada akhirnya menimbulkan kesetiaan (loyalitas) konsumen sehingga terjalin bisnis ulang. Relationship marketing berdasarkan pada:

a. fokus customer retention
b. orientasi manfaat produk
c. orientasi jangka panjang
d. layanan pelanggan yang sangat diperhatikan dan ditekankan
e. komitmen terhadap konsumen sangat tinggi
f. kontak dengan pelanggan sangat tinggi
g. kualitas yang merupakan perhatian semua orang



2. Strategi Superior Customer Service (Schnaars, 1991)
Strategi ini menawarkan pelayanan yang lebih baik daripada pesaing. Perusahaan atau organisasi yang menggunakan strategi ini harus memiliki dana yang cukup besar dan kemampuan SDM yang unggul, serta memiliki usaha yang gigih agar tercipta suatu pelayanan yang superior. Maka tidak jarang perusahaan atau organisasi yang menawarkan customer service yang lebih baik akan membebankan harga yang lebih tinggi pada produk atau jasa yang dihasilkannya. Biasanya perusahaan tersebut akan memperoleh manfaat yang cukup besar dari pelayanan yang baik yang mereka berikan yaitu berupa tingkat pertumbuhan yang cepat dan besarnya laba yang diperoleh.

3. Strategi unconditional guarantees (Hart, 1988) atau extra ordinary guarantees
Strategi ini berintikan komitmen untuk memberikan kepuasan konsumen yang akhirnya akan menjadikan sumber dinamisme penyempurnaan mutu produk atau jasa dan kinerja perusahaan. Disamping itu motivasi karyawan juga akan mengalami peningkatan dalam mencapai tingkat kinerja yang lebih baik dari sebelumnya. Fungsi utama garansi adalah untuk mengurangi resiko konsumen sebelum maupun sesudah pembelian barang atau jasa sekaligus memaksa perusahaan yang bersangkutan untuk memberikan yang terbaik dalam meraih loyalitas konsumen.

4. Strategi penanganan keluhan yang efisien (Schnaars, 1991)
Penanganan keluhan memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengubah konsumen yang tidak puas (unsatisfied customer) menjadi konsumen yang puas (satisfied customer) terhadap produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Dalam strategi ini sumber masalah yang ditemukan harus diatasi, ditindaklanjuti, dan diupayakan agar di masa yang akan datang tidak timbul masalah yang sama yang dihadapi oleh konsumen. Kecepatan dan ketepatan penanganan merupakan hal yang krusial. Ketidakpuasan konsumen akan semakin besar jika keluhan tersebut tidak ditanggapi oleh perusahaan, karena hal ini akan menimbulkan kekecewaan yang dialami konsumen. Para karyawan perusahaan perlu dilatih dan diberdayakan untuk mengambil keputusan dalam rangka menangani situasi seperti itu. Empat aspek penting dalam penanganan keluhan yaitu empati terhadap yang marah, kecepatan dalam penanganan keluhan, kewajaran dan kemudahan bagi konsumen untuk menghubungi perusahaan.

5. Strategi peningkatan kinerja perusahaan
Suatu strategi meliputi berbagai upaya seperti melakukan pemantauan dan pengukuran kepuasan konsumen secara berkesinambungan, memberikan pendidikan dan pelatihan yang mencakup komunikasi dan public relation terhadap pihak manajemen dan karyawan, memasukkan unsur kemampuan untuk memuaskan konsumen yang penilaiannya bias didasarkan pada survei konsumen, dalam sistem penilaian prestasi karyawan dan memberikan enpowerment yang lebih besar kepada karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

6. Penerapan Quality Function Deployment (QFD)
Merupakan praktek dalam merancang suatu proses sebagai tanggapan terhadap kebutuhan konsumen. Konsep ini menerjemahkan apa yang dibutuhkan konsumen menjadi apa yang dihasilkan perusahaan. Hal ini dilaksanakan dengan melibatkan konsumen dalam proses pengembangan produk/jasa sedini mungkin dengan demikian memungkinkan perusahaan untuk memprioritaskan kebutuhan konsumen serta memperbaiki proses hingga tercapai efektivitas maksimum.

Kepuasan merupakan tingkat perasaan konsumen yang diperoleh setelah konsumen melakukan/menikmati sesuatu. Dengan demikian dapat diartikan bahwa kepuasan konsumen merupakan perbedaan antara yang diharapkan konsumen (nilai harapan) dengan situasi yang diberikan perusahaan (perguruan tinggi) di dalam usaha memenuhi harapan konsumen. Purchase Intention merupakan perilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek. Purchase Intention juga merupakan minat pembelian ulang yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang (Assael, 1998). Beberapa pengertian dari intention (Setyawan dan Ihwan, 2004) adalah sebagai berikut:

1. Intention dianggap sebagai sebuah ‘perangkap’ atau perantara antara faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku.

2. Intention juga mengindikasikan seberapa jauh seorang mempunyai kemauan untuk mencoba.
3. Intention menunjukkan pengukuran kehendak seseorang.
4. Intention berhubungan dengan perilaku yang terus menerus.

Assael (1998) mengemukakan bahwa pemasar akan selalu menguji elemen-elemen dari bauran pemasaran yang mungkin mempengaruhi purchase intention.
Penelitian Woodside dalam Setyawan dan Ihwan (2004) menyatakan bahwa pelanggan menilai sikap dari pemberi jasa sebagai ekspektasi awal mengenai performance toko dan sikap ini mempengaruhi minat pembelian pada sebuah toko. Perubahan sikap menjadi input yang menentukan minat pembelian pelanggan. Namun hasil penelitian Setyawan dan Ihwan (2004) menemukan bahwa service quality perception dan satisfaction merupakan variabel independen. Variabel service quality perception tidak berpengaruh terhadap purchase intention. Sehingga hasil ini tidak mendukung penelitian sebelumnya. Penelitian ini menggunakan model hasil penelitian Setyawan dan Ihwan (2004) dengan objek penelitian pada toko buku Gramedia.

• Penggunaan Internet

Penggunaan internet berkembang begitu pesat. Pertengahan tahun 1996, populasi on-line di USA adalah 35 juta. Di pertengahan 1998 pupolasinya menjadi 72,6 juta. Dan pada bulan April 1999 ada lebih dari 83 juta pengguna internet yang berumur di atas 16 tahun. Penggunaan internet sebagai alternative berbelanja online juga meningkat ketimbang mengunjungi bangunan pertokoan. Pada tahun 1998, 18,6 juta orang membeli barang lewat internet yang menghabiskan lebih dari 26 miliyar dolar US. Tahun 2002, diprediksikan pengguna internet akan menjadi 64 juta orang dan mengeluarkan uang sebesar 268 miliyar dolar. Di akhir 1990, laki –laki lebih banyak menggunakan internet ketimbang wanita. Tahun 1997, 37 % laki – laki di USA menggunakan internet dan hanya 17 % perempuan menggunakan internet. Pertengahan 1998, perbedaannya mengecil menjadi 46 % pria dan 37.8 % wanita. Para ahli menaksirkan prosentase pengguna internet wanita dan pria akan menjadi sama di tahun 2001. Penelitian yang dilakukan oleh Roper Starch Worldwide menunjukan bahwa 25% dari total pengguna internet menggunakan internet untuk mencari informasi produk, 25 % mencari informasi perusahaan, 22 % untuk travel, 18 % untuk keuangan dan investasi, 10 % untuk melakukan pembelian, dan 7 % untuk keperluan bank.
Dunia bisnis telah memasuki era teknologi tinggi. Sebelumnya, belum pernah ada masa yang lebih menyenangkan untuk mempelajari bidang yang dinamis ini dibandingkan sekarang. Kemajuan – kemajuan teknologi yang baru telah menciptakan sebuah industry peluang yang tidak pernah habis yang hanya dibatasi oleh kreativitas bisnis Internet pada dasarnya adalah aplikasi dari semua prinsip bisnis. Melalui internet hakikatnya adalah iklan dari iklan barang dan jasa hingga penciptaan sebuah citra atau image melalui homepage. Banyak perusahaan mengumpulkan data melalui internet,informasi praktis tentang pesaing serta pemasok, dan pelanggan. Banyak Perusahaan mengumpulkan data melalui kuesioner di Web. Perusahaan dapat melakukan uji pasar terhadap ide-ide atau produk-produk baru maupun pengembangan pelayanan melalui internet. Homepage seringkali dilengkapi dengan alamat-alamat email atau link-link yang menawarkan jalur lain untuk mendapatkan informasi yang berguna. Masalah-masalah hukum diulas dalam web. Masalah seperti kewajiban produk (product liability) atau communications Decency Act (Undang-Undang Kejujuran Komunikasi) bisa diinvestigasikan. Juga ditawarkan petunjuk-petunjuk untuk melaporkan keluhan-keluhan konsumen kepada berbagai keagenan.
Web ini membuka akses ke pemerintahan dan perusahaan-perusahaan internasional. Web ini khusunya sangat memberikan pemahaman bagi penyelidikan masalh – masalah hukum yang menyangkut berbisnis di Negara lain. Banyak kelompok memiliki homepage. Masalah-masalah lingkungan dan etika,misalnya seringkali ditinjau. Banyak kelompok meilihat Web adalah sebeuah saluran yang unik untuk mendistribusikan barang-barang,jasa, dan informasi. Akses langsung ke produsen oleh konsumen bias mengubah secara signifikan sifat dari penjualan. Internet bsia digunakan untuk mencari pekerjaan. Banyak perusahaan membuka lowongan pekerjaandalam homepage mereka. Juga tersedia beberapa jasa pencarian pekerjaan secara online. Dengan mempelajari peranti-peranti dasar (basic tools) akan menjadikan kegiatan menjelajahi (surfing) internet semakin menguntungkan dan menyenangkan bagi kita semua. Setiap situs memilki sebuah alamat,berupa URL atau Uniform Resource Locator. Menggunakan sebuah URL adalah cara tercepat untuk menuju situs. Meembuat sebuah bookmark menjadikan proses akses ke sebuah situs pada waktu kemudian menjadi lebih cepat. Jika anda mengetahui URL yang spesifik, anda bisa menggunakan beragam mesin pencari (misalnya,yahoo!,infoseek) untuk melakukan pencarian.
Jika anda ingin memakai informasi yang telah anda ambil dari internet ke dalam sebuah makalah penelitian atau pekerjaan rumah. Anda perlu mengetahui bagaimana mengutip informasi tersebut dengan benar. Meskipun formatnya masih dikembangkan untuk berbagai tipe dokumen elektronik,namun edisi baru dari kebanyakan tipe manual yang diterima memiliki bagian yang membahas bagaimana mengutip sumber elektronik termasuk internet.
Koneksi bisnis internet (Internet Business Connection) adalah nama dari situs web karenan dalam homepage dapat mengakses profil-profil berbagai perusahaan ,latihan dan sumber informasi. Untuk kecepatan dan kenyamanan dalam melakukan browsing. Anda dapat men-download koneksi bisnis internet dan meng-install ke dalam computer anda. Koneksi bisnis internet bekerja dalam sebuah web browser khusus dalam program menemukan karie bisnis retailing.
Perpustakaan public internet university of Michigan memiliki sebuah daftar dengan link-link untuk merekomendasikan sebuah daftar pedoman penyebut informasi elektronik seperti http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878539 . Sebagai sebuah contoh link penjual suplemen terbesar di Indonesia.



Koneksi bisnis internet (Internet Business Connection) adalah nama dari situs web karenan dalam homepage dapat mengakses profil-profil berbagai perusahaan ,latihan dan sumber informasi. Untuk kecepatan dan kenyamanan dalam melakukan browsing. Anda dapat men-download koneksi bisnis internet dan meng-install ke dalam computer anda. Koneksi bisnis internet bekerja dalam sebuah web browser khusus dalam program menemukan karie bisnis retailing.
Koneksi bisnis internet juga mencakup sebuah halaman web yang komprehensif untuk lampiran A. Apabila anda memiliki link lebih ke 30 situs dimana banyak pekerjaan di bidang bisnis saat ini ditempatkan atau situs-situs untuk meneliti dan menemukan perusahaan. Anda juga menerima petunjuk yang bermanfaat untuk memaksimalkan pencarian pekerjaan dan produk yang dicari atau mau dibeli. Secara bersama-sama, Menemukan karier bisnis anda, dan koneksi bisnis internet menawarkan pengembangan yang tidak ternilai bagi pelajaran bisnis retailing anda memungkinkan untuk menghubungkan apa yang dipelajari denagn berbagi pengalaman pembeli dan penjula seta serice pelanggan. Melalui bisnis internet anda dapat mengintegerasikan secara terus menerus sumber informasi web yang banyak sekali dengan apa yang dijual dan dibeli di internet atau website –website.
Perusahaan menggunakan internet dan website untuk tujuan yang lebih spesifik disbanding konsumen. Eksekutif membuka web untuk mengumpulkan informasi tentang saingan saingan mereka atau untuk mengakses tren industry. Peranti bisnis yang berjudul “Mengarungi tren industry” menyediakan sejumlah tip tentang teknik-teknik navigasi. Sebagai contoh, para eksekutif dapat mengunjungi situs-situs web pesaing untuk mengetahui pengumuman-pengumuman produk baru atau memeriksa laporan keuangan mereka.
Situs-situs Web perusahaan membantu manajer pemasaran dalam mengumpulkan data-data berharga mengenai konsumen potensial dengan meminta pengunjung menyerahkan informasipribadi melalui regristrasi. Web memainkan peran promosi kepada konsumen. Dapat juga memanfaatkan untuk mengisi kuesioner untuk pelanggan baru atau pelanggan tetap untuk mengethui selera dan kemajuan produk dan jasa yang diberikan.
Electronic Commerce dapat diambil contoh, saat petugas-petugas Fujitsu Business Communication di Anaheim, California,membutuhkan perlengkapan kantor,mereka tinggal log on ke ekstranet milik Boise Cascade Office Products (jaringan khusus berpengalaman, yang menghubungkan Boise dengan pelanggan-pelanggannya. Sistem elektronik ini mengotomatisasikan seluruh proses pemesanan,meminta izin-izin internal yang diperlukan dan melakukan pengiriman dalam semalam. Memasarkan barang dan jasa melalui computer, dimana pembeli dan penjula saling mempertukarkan informasi,sehingga meminimalkan tugas dokumentasi dan penyerderhanaan prosedur-prosedur pembayaran. Seperti tipe-tipe lain dari interaksi pembeli da penjual. Interaksi ini berawal pada informasi prosuk lalu melalui proses pemesanan,pembuatan faktur,dan pembayaran setra berakhir pada pelayanan konsumen. Gelombang-gelombang E-commerce memunculkan teknik-teknik seperti system pengesahan charge card,terminal point of sale,scanner dan penjualaninternet model awal semua aktivitas ini difokuskan untuk menurunkan biaya penjual. Seiring dengan bertambahnya grup bisnisyang menemukan manfaat-manfaat dari e commerce.
Sejumlah inovasi E-commerce mendukung pemasaran bisnis ke bisnis maupun bisnis ke konsumen. Sebagai contoh Chase Manhattan Bank yang berbasis di Newyork menggunakan kios-kios video terkomputerisasi untuk menjelaskan dan menawarkan berbagai tipe produk keuangan pada nasabah. Dibanyak kota,penduduk dapat membayar pajak dan denda , mendapatkan formulir perizinanan dan lisensi,dan mengakses informasi-informasi pemesanan pemerintahan lain kios-kios yang mirip ATM. E commerce mempunyai manfaat-manfaat seperti sebagai perluasan jangkauan pasar, penghematan biaya,dan perbaikan hubungan denagn konsumen. Penempatan catalog industry pada web,misalnya menghemat biaya publikasi dan biaya POS. Bisa juga mempererat hubungan dengan konsumen melalui email dan sosialisasi penawaran special discount.

• Home Shopping Eases Time Strain
Untuk mereka yang sangat sibuk dan hanya memiliki sedikit waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari – hari, home shopping merupakan alternative yang sangat bisa diandalkan. Selain menghemat waktu, pembeli juga dapat membeli berbagai jenis kebutuhan hanya dengan kartu kredit dan satu klik dari mouse komputer. Sebut saja Streamline (internet retailer) menyediakan berbagai jenis bahan makanan, minuman, laundry, video rental, dll.


• Pedesaan Faktor Penting Bagi Perekonomian

Dalam menjalankan hidupnya manusia memiliki naluri untuk berusaha, mencukupi berbagai macam kebutuhan hidup. Salah satu caranya adalah dengan mengadakan suatu usaha yang dapat mendatangkan pendapatan sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara terus menerus. Pada umumnya manusia dalam berusaha mempunyai tujuan untuk mendatangkan pendapatan guna pemenuhan kebutuhannya adalah dengan cara menjalankan suatu usaha secara kecil-kecilan dan sederhana yang kemudian dengan ketekunan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan berusaha meningkatkan usahanya menjadi lebih besar dan berkembang sehingga mendapatkan keuntungan yang meningkat dan menjadikan memiliki lebih banyak daya guna pemenuhan kebutuhannya yang juga meningkat.
Usaha kecil (small business) secara umum dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang dimiliki dan dikelola secara bebas - tidak terikat serta yang tidak mendominasi pasar. Usaha kecil tidak dapat dipasangkan dengan usaha lain dikarenakan para wirausaha dari usaha kecil adalah “boss” dari usahanya sendiri serta bebas dan tidak terikat untuk menjalankan usahanya selama dan sepanjang yang ia kehendaki. Namun demikian, usaha kecil harus memiliki sedikit pengaruh dalam pasarnya demi mempersiapkan pengembangannya menjadi suatu usaha besar. Sebagai contoh, pabrik air mineral Aqua adalah sebuah usaha kecil yang pada waktu didirikan memiliki sedikit pengaruh pada pasar tetapi sekarang sudah menjadi perusahaan yang mendominasi pasar air mineral di Indonesia. Pada waktu didirikan Aqua adalah usaha kecil tetapi sekarang tidak lagi.
Demikian pula usaha kecil-usaha kecil lainnya sangatlah penting bagi ketahanan perekonomian suatu negara dikarenakan dampak yang ditimbulkan sebagai akibat adanya gerakan dinamis dari usaha kecil ini, seperti terciptanya lapangan pekerjaan, adanya inovasi-inovasi pada bidang usaha, dan kreatifitas pada produk barang dan jasa.
Para ekonom dan politikus sering menyatakan bahwa usaha kecil merupakan penggerak bagi tersedianya lapangan pekerjaan. Dan memang pada kenyataannya, lebih dari 20 tahun terakhir ini kebanyakan lapangan pekerjaan baru diciptakan bukan dari usaha besar–usaha besar melainkan dari usaha kecil-usaha kecil. Usaha kecil yang baru tumbuh dan yang menerapkan teknologi moderen menjadikan terciptanya lapangan-lapangan pekerjaan baru lebih cepat dibandingkan dengan usaha besar yang sudah lebih dahulu berdiri lama.
Para wirausaha usaha kecil meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya secara kreatif untuk menciptakan produk barang dan jasa guna mengembangkan usahanya menjadi lebih maju dan lebih besar. Pada saat sekarang ini kita bisa dengan mudah mendapatkan produk barang dan jasa yang inovatif yang dihasilkan oleh para wirausaha dari usaha kecil ini.

Usaha kecil juga memainkan peran yang sangat penting bagi kelangsungan usaha besar. Hal ini dikarenakan usaha kecil-usaha kecil merupakan sumber penyedia (supplier) berbagai macam barang dan jasa serta bahan mentah yang dibutuhkan oleh usaha besar untuk menjalankan proses produksi mereka. Dengan demikian terdapat ikatan mata rantai yang saling berketergantungan antara usaha kecil dengan usaha besar yang tidak dapat dipisahkan. Sangatlah penting dan menguntungkan untuk mendirikan berbagai macam usaha kecil-usaha kecil dalam upaya menguatkan ketahanan perekonomian suatu daerah. Ada beberapa bidang usaha kecil yang dapat diusahakan pada suatu daerah dan dapat didirikan secara bebas tidak terikat. Namun untuk itu sebagai bahan dalam menyusun rencana guna mendirikan suatu usaha kecil, perlu diperhatikan hal-hal yang harus dipertimbangkan bahwa menjalankan usaha manufaktur lebih berat untuk dimulai dibandingkan dengan usaha jasa yang lebih mudah untuk dimulai.
Usaha Jasa. Usaha jasa adalah segmen yang terbesar dan cepat bertumbuh pada bidang usaha kecil dikarenakan usaha ini membutuhkan sumber-sumber yang relatif mudah didapat. Usaha jasa memberikan keuntungan intelektual bagi pengusahanya karena mereka dapat dengan bebas mengembangkan bakat mereka secara inovatif. Terdapat banyak macam usaha dalam bidang jasa ini. Sebagai contoh adalah mulai dari jasa transportasi “pulangan” sampai dengan armada bus antar daerah dalam propinsi; dari jasa menajamkan betel sampai dengan bengkel las; dari usaha penyewaan Compact Disc (CD) sampai dengan usaha penyewaan fasilitas acara pernikahan seperti puade, dokumentasi dan catering; dari usaha penyewaan kursi sampai dengan usaha penyewaan gedung pertemuan. Dan masih banyak lagi usaha jasa yang bisa disebutkan.

Usaha Eceran. Usaha eceran menempati posisi kedua dalam usaha kecil sebagai usaha yang paling banyak diminati. Usaha eceran adalah usaha yang menjual barang-barang yang diproduksi oleh pabrik langsung kepada konsumen atau pemakai akhir. Ada terdapat ratusan usaha eceran yang berbeda-beda. Sebagai contoh adalah usaha warung, toko serba ada, toko obat, toko buku. Demikian pula agen minyak tanah, bengkel onderdil, kios bensin dan solar, kios pupuk pertanian, dan lain-lain.

Usaha Pertanian. Usaha pertanian mungkin merupakan usaha kecil yang paling tua yang pernah diusahakan. Selama berabad-abad, hampir setiap orang melakukan usaha pertanian dengan menanam untuk menjadi makanannya sendiri. Jadi untuk masuk dalam kategori usaha kecil mereka harus melakukan sedikit keterlibatan dalam pengelolaan hasil panennya dalam bentuk membagi antara yang akan dikonsumsi sendiri dengan yang akan dijual untuk menghasilkan pendapatan. Namun pada saat sekarang kebanyakan usaha kecil pertanian secara dramatis banyak yang berubah menjadi suatu usaha besar atau agribisnis raksasa. Perubahan ini dimungkinkan karena tersedianya alat-alat besar untuk pertanian dan tersedianya jumlah besar bahan-bahan kimia pertanian moderen. Contohnya adalah perkebunan Kelapa Sawit, perkebunan Kentang, Hortikultura dan lain sebagainya. Hampir kebanyakan usaha besar-usaha besar pada awalnya dimulai dari usaha kecil. Dengan tujuan yang jelas, semangat, ketekunan, keberanian dan juga sudah barang tentu, pengembangan keterampilan, teknologi dan manajemen, usaha kecil dapat ditingkatkan dan dikembangkan menjadi usaha besar. Dengan menjadi usaha besar, usaha ini secara langsung ikut memajukan usaha kecil-usaha kecil yang baru tumbuh untuk menjadi besar pula. Usaha besar menjadikan lancarnya penjualan produk barang dan jasa dari usaha kecil sehingga memberikan pendapatan dan keuntungan pada usaha kecil yang pada gilirannya akan membuat usaha kecil dapat berkembang dengan adanya pertambahan modal hasil dari penjualan kepada usaha besar.
Dengan demikian dapat dilihat bahwa ada saling ketergantungan yang erat antara usaha kecil dengan usaha besar. Masing-masing memainkan peranannya dalam perputaran roda perekonomian dan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Usaha besar membutuhkan usaha kecil demikian pula sebaliknya. Usaha besar membutuhkan produk barang dan jasa serta bahan mentah dari usaha kecil guna menjalankan proses produksinya, sebaliknya usaha kecil membutuhkan pembeli dari produk barang dan jasa serta bahan mentah yang dihasilkan untuk menjamin kelangsungan usahanya. Namun dalam perbandingan jumlah, dibutuhkan lebih banyak usaha kecil untuk dapat memutar roda perekonomian yang digerakkan oleh usaha besar. Sehingga tepatlah bila dikatakan bahwa usaha kecil merupakan faktor yang penting bagi ketahanan dan berlangsungnya suatu perekonomian, baik suatu negara maupun suatu daerah.

CONTOH WEBSITE RETAILER Di INDONESIA


Ini adalah contoh website home shopping yang menjual susu,vitamin dan suplemen kesehatan lainnya di Indonesia
Link
http://www.binaraga.net/info_produk/info_produk_index.php





Kenapa menggunakan layanan home shopping ?
 Automating Process
Diproses secara otomatis. Proses automatisasi ini menghemat banyak sekali waktu customer. One-Stop shopping. Mempermudah pembeli untuk membeli berbagai jenis barang untuk berbagai jenis kebutuhan dalam satu lokasi.
Tidak perlu lagi pergi mengunjungi toko. Katalog on-line yang sangat detail banyak membatu customer menentukan pilihan mereka tanpa mereka harus pergi ke toko tersebut. Retailer juga harus berubah seiring dengan perubahan keinginan pasar. Kesadaran sosial snagat membantu tidak hanya dalam kehidupan sosial tapi juga di dalam bisnis. Saat ini banyak pembeli yang pemasukannya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Retailer sebaiknya menyesuaikan diri dengan keadaan perekonomian ini, retailer yang berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi masih tetap berjalan dengan baik.
 One-Stop shopping.
Mempermudah pembeli untuk membeli berbagai jenis barang untuk berbagai jenis kebutuhan dalam satu lokasi. Tidak perlu lagi pergi mengunjungi toko.
 Online Catalog
Menyediakan informasi produk yang sangat detail sehingga banyak membatu customer menentukan pilihan mereka tanpa mereka harus pergi ke toko tersebut.
Retailer juga harus berubah seiring dengan perubahan keinginan pasar. Kesadaran sosial snagat membantu tidak hanya dalam kehidupan sosial tapi juga di dalam bisnis. Saat ini banyak pembeli yang pemasukannya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Retailer sebaiknya menyesuaikan diri dengan keadaan perekonomian ini, retailer yang berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi masih tetap berjalan dengan baik.











Daftar Pustaka
Michael Levy dan Barthon A. Weitz. Retailing Management 4th Edition

William R. Davidson, Daniel J. Sweeney dan Ronald M. Stampfl. The Retailing Management 6/E

Michael Levy dan Barthon A. Weitz. Retailing Management 2nd Edition

Wikipedia, The Free Encyclopedia at WWW.WIKIPEDIA.COM

Body building and Sports nutrition center at WWW.BINARAGA.NET

Journal of retailing. Cooper, D.R. & Emory, C.W. (1995)

Jounal of retailing (David L. Kurtz,Phd)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thaks,telah mampir di blog saya.